“ERICK THOHIR” KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG AKAN TEMBUS SURABAYA KEDEPANYA. - https://tabloidnusantara.com/

“ERICK THOHIR” KERETA CEPAT JAKARTA-BANDUNG AKAN TEMBUS SURABAYA KEDEPANYA.

JAKARTA, “Tabloid Nusantara “ – Gonjang Ganjing mega proyek pemerintah yang akan menghadirkan kereta cepat, Jakarta – Bandung menuai pro kontra, yang menjadi sorotan setelah adanya pembengkakan biaya yang diestimasi mencapai US$ 1,4 sampai US$ 1,9 miliar.

Dalam kesempatan yang dikutip, wawancara ekslusif Kick Andy yang ditayangkan di Metro TV, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan pemerintah pembangunan mega proyek kereta cepat ini kedepanya akan dilanjutkan sampai ke Surabaya, Jawa Timur.

“Saat ini akan merampungkan dulu kereta cepat Jakarta menuju Bandung. Meskipun, dalam kesempatan, ia dan Presiden Joko Widodo atau Jokowi sempat menyinggung bahwa sepur kilat harus dilanjutkan sampai ke Surabaya, Jawa Timur.

BACA JUGA : KOMINFO JATENG SIAPKAN 8 BUKU STATISTIK PEMBANGUNAN

Dimana, kelanjutan proyek kereta berkecepatan 350 kilometer per jam juga akan bergantung kepada pemerintah setelah era Presiden Jokowi. Pasalnya, ia mengatakan saat ini tidak ada Garis Besar Haluan Negara atau GBHN yang memastikan keberlanjutan pembangunan setelah berakhirnya periode pemerintahan. “Ujar Erik.

“Cereta cepat ini saya sudah buat statement harus dilanjutkan sampai Surabaya, presiden juga menyampaikan yang sama. masalahnya yang ini (Jakarta-Bandung) saja belum selesai, masak mau lanjut,” ujar Erick Thohir.

“Mulanya proyek kereta berkecepatan 350 kilometer per jam ini direncanakan dibangun tanpa suntikan modal negara yang akan menelan biaya diestimasi mencapai US$ 1,4 sampai US$ 1,9 miliar ini tidak bisa tidak mungkin dibiayai oleh pasar sehingga memerlukan uang APBN.

“Ada beberapa faktor yang membuat anggaran melonjak, diantaranya pembebasan tanah yang sulit dan menyebabkan biayanya membesar, serta terjadinya pandemi Covid-19 yang mengerek harga bahan baku. “ucap Erik.

Erick mengatakan proyek kereta cepat itu pun tidak bisa dihentikan lantaran saat dia masuk menjadi menteri, pekerjaan sudah berjalan lebih dari 60 persen. Artinya, semua pihak sudah mengeluarkan banyak uang dan akan merugikan jika dihentikan. “Masak harus berhenti? Kalau berhenti, uang sudah kebakar semua menjadi besi tua.”Pungkasnya.

Tabloid Nusantara

Membuka Wawasan Dan Mencerdaskan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *