Selasa, Mei 28, 2024
BerandaHANKAMPENDEKATAN HUMANISME BEBASKAN PILOT SUSI AIR DEMI CEGAH KORBAN JIWA

PENDEKATAN HUMANISME BEBASKAN PILOT SUSI AIR DEMI CEGAH KORBAN JIWA

PAPUA “tabloidnusantara.com” ~ Pendekatan humanisme terus diupayakan oleh berbagai pihak dalam rangka misi evakuasi dan penyelamatan serta pembebasan dari Pilot maskapai penerbangan Susi Air yang menjadi sandera KST Papua. Hal tersebut dilakukan untuk bisa mencegah adanya potensi timbulnya korban jiwa.

Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI), K.H. Ma’ruf Amin menyatakan bahwa upaya pendekatan negosiasi yang dilakukan oleh Pemerintah RI sela ini dengan pihak Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua atau juga bisa disebut dengan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) pimpinan Egianus Kogoya dalam rangka untuk misi evakuasi, penyelamatan dan pembebasan Pilot dari maskapai penerbangan Susi Air, Kapten Philips Mark Mehrtens terus menggunakan upaya yang persuasif.

READ ALSO  : AJAKAN DAMAI PEMERINTAH, DIBALAS KKB DENGAN TEBAR TEROR TEMBAKI PESAWAT SMART AIR

Tentunya bukan tanpa alasan, mengapa Pemerintah Republik Indonesia (RI) selama ini terus menegaskan dan berkomitmen kuat untuk menggunakan pendekatan yang persuasif saja. Hal tersebut dikarenakan agar bisa mencegah kemungkinan ataupun potensi akan timbulnya korban jiwa.

Maka dari itu, sejauh ini pendekatan yang terus dilakukan oleh Pemerintah RI sendiri beserta banyak dibantu oleh seluruh aparat keamanan dari personel gabungan yang terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) hingga Badan Intelijen Negara (BIN) bersifat membuka adanya ruang komunikasi secara lebar dengan banyaknya negosiasi yang dilakukan.

Segala macam bentuk perundingan terus diupayakan dengan sangat maksimal dan sejauh ini memang sudah sangat optimal agar pihak gerombolan separatis pimpinan Egianus Kogoya tersebut melepaskan sandera mereka, sehingga Kapten Philips Mark Mehrtens bisa diselamatkan dengan lancar.

Upaya dari Pemerintah RI dan segenap stakeholder atau pihak terkait lainnya dengan terus mengutamakan pendekatan yang menjunjung tinggi asas kemanusiaan itu tentunya sangat patut untuk diberikan apresiasi yang sangat tinggi dan didukung penuh pula oleh seluruh elemen masyarakat di Tanah Air.

Bagaimana tidak, pasalnya jika justru dari pihak Pemerintah saja malah menggunakan pendekatan yang berisiko seperti melakukan pengerahan kekuatan militer negara untuk misi pembebasan pilot yang berwarganegara Selandia Baru tersebut, maka jelas saja risikonya akan sangat tinggi dan mampu berpotensi untuk menimbulkan banyak korban jiwa.

READ ALSO : SULITNYA PEMBEBASAN PILOT SUSI AIR, KETIKA KKB TAK MAU KOMUNIKASI

Oleh sebab itu, negara sama sekali tidak menginginkan apabila ternyata langkah dan niat baik, yakni agar bisa melakukan resolusi konflik secara penuh perdamaian dengan pihak KST Papua, termasuk juga upaya pembebasan Pilot Susi Air berujung dengan hal yang sama sekali tidak diinginkan dan justru akan menyebabkan dampak negatif serta kerugian kepada banyak pihak lainnya.

Sehingga memang menjadi sangat amat penting dilakukan secara terus menerus berbagai macam pendekatan humanis yang juga turut melibatkan banyak pihak dan elemen masyarakat lain secara inklusif serta komprehensid, yakni adanya pelibatan para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat setempat.

Panglima TNI menyerahkan proses negosiasi pembebasan pilot Susi Air Philips Mark Methrtens kepada Penjabat (Pj) Bupati Nduga Edison Gwijangge. (kompas.com)

Sebelumnya, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI), Laksamana Yudo Margono sendiri telah menyampaikan bahwa pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan secara intensif mengenai bagaimana perkembangan terbaru dari langkah dan upaya negosiasi yang dilakukan oleh Pemerintah pusat, Pemerintah Daerah (Pemda) hingga termasuk para tokoh adat setempat.

READ ALSO : TNI TEGASKAN TAK GUNAKAN CARA MILITER BEBASKAN PILOT SUSI AIR

Bahkan, Panglima TNI tersebut juga menekankan bahwa dirinya sama sekali tidak ingin mengerahkan adanya pasukan dan kekuatan militer dalam misi pembebasan pilot maskapai penerbangan Susi Air itu, karena risikonya sangat tinggi dan juga dirinya sangat berhati-hati agar bisa menghindari adanya potensi atau kemungkinan munculnya korban jiwa, terutama jika misalnya justru korban jiwa itu berasal dari pihak masyarakat.

Lebih lanjut, Laksamana Yudo Margino sendiri juga menyebutkan bahwa pihaknya terus memercayakan seluruh proses negosiasi dan pendekatan humanisme dengan pihak Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua pimpinan Egianus Kogoya kepada Penjabat (Pj) Bupati Nduga.

Prioritas utama yang terus dijaga adalah bagaimana mengutamakan keselamatan dari sang pilot maupun masyarakat setempat sendiri. Jangan sampai ada terjadi korban jiwa, sehingga negara terus dan tetap mengajukan berbagai macam pendekatan negosiasi yang damai, yang mana upaya tersebut juga sangat berdampak pada bagaimana situasi serta kondisi terbaru saat ini di Bumi Cenderawasih.

Perlu diketahui bahwa laporan mengenai bagaimana situasi keamanan terbaru yang saat ini terletak di provinsi paling Timur di Indonesia itu dalam situasi yang aman dan realtif penuh akan kondusifitas. Seluruh hal akan terus dimaksimalkan dengan sangat optimal, selama memang demi memenuhi keselamatan dari seluruh pihak.

Untuk bisa mencegah terjadinya potensi korban jiwa berjatuhan dalam rangka misi melakukan evakuasi penyelamatan serta pembebasan pilot Susi Air dari tangan KST Papua, maka sudah sangat wajar apabila pendekatan dengan prinsip kemanusiaan ataupun humanisme terus dijunjung dengan sangat tinggi.

Berita ini dikutip dari tulisan salah seorang Mahasiswa Papua yang tinggal di Yogyakarta atas nama Veronica Lokbere dan dimuat dalam tajuk opini dengan judul Pendekatan Humanisme Bebaskan Pilot Susi Air Demi Cegah Korban Jiwa.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments