SIKKA, tabloidnusantara. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau langsung dampak gempa magnitudo 7,7 di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Kamis (20/8). Kunjungan dimulai dari lokasi pengungsian di SD Inpres Wairklau, lalu dilanjutkan ke Pelabuhan Laurentius Say yang mengalami kerusakan berat.
Didampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno serta Kepala BNPB Suharyanto, Gibran tiba di Sikka pada Kamis siang. Di SD Inpres Wairklau, ia berdialog dengan warga yang masih bertahan di tenda pengungsian dan menyerahkan mainan, buku, serta peralatan bayi kepada anak-anak dan para ibu.
“Anaknya sudah makan?” tanya Gibran kepada seorang ibu.
“Anaknya enggak ada luka atau apa, kan? Luka enggak? Aman, ya?” lanjutnya memastikan kondisi anak-anak.
Momen sederhana itu menjadi penekanan pesan Wapres: negara hadir bukan hanya lewat logistik, tapi juga lewat perhatian langsung.
Pendidikan Jadi Prioritas di Tengah Darurat
Melalui peninjauan ini, Gibran menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak boleh menunda hak anak untuk belajar.
“Perhatian pemerintah terhadap pendidikan tetap harus hadir di tengah situasi darurat. Pemulihan tidak hanya mengembalikan kondisi fisik fasilitas pendidikan, tetapi juga memastikan anak-anak dapat kembali belajar dengan aman, nyaman, dan memperoleh dukungan yang mereka butuhkan,” ujarnya.
Setelah dari Wairklau, rombongan bergerak ke Pelabuhan Laurentius Say untuk melihat kerusakan dermaga. Dari pelabuhan, Wapres kemudian meninjau Gereja Santa Maria Magdalena Nangahure yang juga terdampak gempa.
Berdasarkan laporan BNPB
– Korban jiwa: 71 orang
-Total pengungsi: 59.647 orang. Jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai
– Bantuan logistik: 398 ton telah dikirim sejak 15-18 Agustus 2026. 165 ton di antaranya didistribusikan melalui jalur udara, sisanya tetap menggunakan jalur darat sebagai moda utama
Kerusakan infrastruktur seperti Pelabuhan Laurentius Say menjadi perhatian karena berdampak pada distribusi bantuan ke wilayah pesisir Sikka dan sekitarnya.
Kunjungan Wapres ke Sikka menjadi sinyal bahwa pemerintah pusat ingin mempercepat pemulihan dua hal sekaligus: infrastruktur vital dan layanan dasar, khususnya pendidikan, agar anak-anak NTT bisa segera kembali ke kelas meski dalam kondisi darurat.
Pemerintah daerah bersama BNPB, TNI, Polri, dan relawan saat ini masih fokus pada pendirian tenda darurat, dapur umum, layanan kesehatan, dan penyaluran bantuan lanjutan untuk 59 ribu lebih pengungsi di seluruh NTT.
