NAGEKEO, tabloidnusantara. Di antara tenda pengungsi dan puing sekolah yang retak, Presiden Prabowo Subianto datang. Bukan hanya membawa janji, tapi juga tenggat waktu: 3 minggu lagi, kata para ahli, baru benar-benar aman.
“Percayalah pemerintah tidak akan membiarkan saudara sendiri. Kita hadir dan kita akan terus membantu,” ucap Prabowo saat meninjau warga terdampak gempa di Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu.
Gempa M7,7 yang mengguncang Nagekeo pada Sabtu, 15 Agustus 2025 pukul 05.58 WITA, sudah merenggut 103 jiwa. Data BNPB per Selasa, 25/8 mencatat angka itu terus bertambah. Di belakang angka itu ada nama, ada keluarga yang kini tinggal di kolong tenda.
Di titik pengungsian, Prabowo menekankan satu hal yang paling mendesak: pendidikan tidak boleh mati karena bencana.
“Sudah kita siapkan perbaikan-perbaikan langkah sementara supaya sekolah bisa segera buka. Mungkin untuk keamanan, sekolah-sekolah pakai tenda dulu,” katanya.
Kalimat itu lahir dari realitas di lapangan. Banyak gedung sekolah rusak, sebagian ambruk. Daripada menunggu beton kering, pemerintah memilih jalan cepat: kelas darurat di bawah kanopi.
Bagi anak-anak Nagekeo, itu artinya bangku belajar kembali ada, meski atapnya masih terpal.
Prabowo meminta warga bersabar. Menurut para ahli, guncangan susulan dan risiko longsor diperkirakan baru mereda maksimal 3 minggu ke depan.
“Menurut para ahli kita butuh kurang lebih sabar, mungkin maksimal tiga minggu lagi baru lewat aman,” ujarnya.
Tiga minggu. Itu waktu yang panjang bagi ibu yang tidurnya di alas tikar, bagi bapak yang rumahnya retak, bagi lansia yang obatnya harus jalan kaki ke pos kesehatan.
Setelah dinyatakan aman, pemerintah baru akan masuk ke tahap berikutnya: membangun hunian sementara dan memperbaiki rumah warga.
“Pemerintah pusat terus memantau dan terus mengirim bantuan, menyiapkan semuanya untuk mengatasi kesulitan ini,” tegas Prabowo.
“Saya menyampaikan kepada seluruh rakyat Flores, daerah-daerah yang kena bencana, ucapan belasungkawa saya, untuk mereka yang kehilangan keluarganya.”
Humanis, tapi tajamnya di sini: bencana sudah 10 hari berlalu. Korban bertambah. Bantuan datang, tapi warga masih bertanya kapan bisa pulang ke rumah yang tidak lagi menakutkan.
Pemerintah sudah di lapangan. BNPB, TNI, relawan sudah bergerak. Tantangan berikutnya bukan lagi soal “ada atau tidak ada bantuan”, tapi soal kecepatan, ketepatan sasaran, dan rasa aman yang bisa dikembalikan.
Untuk 103 keluarga yang berduka, untuk ribuan warga yang masih menunggu di tenda Nagekeo, janji “tidak akan dibiarkan sendiri” kini diuji oleh waktu. Tiga minggu ke depan.
