JAKARTA , tabloidnusantara. Ribuan mahasiswa penerima Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) harus menunggu lebih lama. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo akhirnya buka suara dan meminta maaf.
“Pemerintah DKI Jakarta menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan ini, tetapi saya sudah memerintahkan untuk yang perpanjangan, hari ini harus selesai. Untuk yang lainnya, maksimum tanggal 6 harus selesai, karena kasihan bagi penerima KJMU yang memang membutuhkan,” kata Pramono di kawasan Jakarta Pusat, Selasa.
Janji itu menjadi angin segar bagi mahasiswa yang mengandalkan KJMU untuk biaya kuliah dan hidup.
Pramono membeberkan tiga biang kerok di balik molornya pencairan.
Pertama, rekening bermasalah.
Ada sekitar 1.100 rekening penerima yang masih menggunakan format lama 10 digit, padahal sistem sekarang sudah 11 digit. Jika dipaksakan transfer, uang dipastikan tidak masuk dan menimbulkan masalah di lapangan.
Kedua, KTP tidak sinkron.
Data penerima ditemukan tidak sesuai. Ada ketidaksesuaian jenis kelamin, usia, hingga tanggal lahir. Bahkan data domisili seperti RT, RW, Kelurahan, dan Kecamatan juga tidak sesuai.
“Dan angkanya juga cukup besar, termasuk kemudian kita temukan adanya RT, RW, Kelurahan, Kecamatan yang tidak sesuai,” papar Pramono.
Ketiga, pembaruan desil.
Pemutakhiran data kesejahteraan membuat perhitungan penerima berubah. Desil yang naik atau turun otomatis mempengaruhi status kelayakan bantuan.
Pramono juga mengungkap data penerima baru yang menambah kompleksitas verifikasi. Tercatat 14.554 penerima KJP dan 6.587 penerima KJMU belum memiliki rekening, sementara 2.155 penerima baru memiliki NIK di luar Jakarta.
Keterlambatan ini menjadi catatan serius bagi Pemprov DKI. Di satu sisi verifikasi ketat diperlukan agar bantuan tepat sasaran. Di sisi lain, mahasiswa yang berhak tidak boleh menjadi korban sistem administrasi yang berbelit.
Kini janji telah terucap, 6 November 2026 sebagai batas akhir. Publik menanti apakah janji itu ditepati.
