Rabu, 23 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

MENPORA : TAK ADA YANG INSTAN, PRESTASI DIRAIH MELALUI PROSES DAN WAKTU YANG CUKUP

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali beserta Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) Airlangga Hartarto mengakui bahwa tidak ada prestasi yang dicapai secara instan. Semua membutuhkan proses dan waktu yang cukup.

Bagikan: WhatsApp Facebook X Telegram

Menteri Pemuda dan Olahraga
(Menpora) Zainudin Amali beserta Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB
WI) Airlangga Hartarto mengakui bahwa tidak ada prestasi yang dicapai secara
instan. Semua membutuhkan proses dan waktu yang cukup.

Dikutip dari Beritasatu, hal itu
disampaikan Zainudin Amali saat membuka penyelenggaraan Wushu Festival (Wufest)
Taolu Championship 2019 di Wisma Serba Guna Senayan Jakarta, Jumat (20/12/2019)
malam. Menpora mengharapkan festival olahraga semacam ini harus terus diadakan
secara rutin sebagai wadah para atlet menimba ilmu dan mengembangkan
kemampuannya.

“Kejuaraan ini jadi fondasi
utama lahirnya prestasi-prestasi olahraga wushu yang membanggakan di kemudian
hari. Pembinaan usia dini menjadi target kita karena tidak ada prestasi instan
kita capai tanpa persiapan atlet sejak usia dini. Pemerintah mengapresiasi
festival ini, karena tidak lama setelah SEA Games dengan prestasi emasnya, PB
WI bersama SIWO Pusat langsung menyelenggarakan festival untuk memberikan lebih
banyak pengalaman bertanding kepada para atlet junior,” kata Zainudin.

Menurut Menpora, Indonesia
memiliki bibit-bibit pewushu seperti saat ini, yang kelak akan menjadi atlet
andalan di berbagai event internasional. Ini mengingat Indonesia tengah
menjadikan bidang olahraga menuju industri dan prestasi menjelang bidding Olimpiade
2032.

“Mudah-mudahan dengan adanya
event ini, dunia mengetahui bahwa Indonesia mampu menjadi tuan rumah pesta
olahraga sedunia seperti Olimpiade dan ke depan wushu bisa dipertandingkan.
Prestasi di cabang bela diri ini perlu dijaga lantaran segudang medali di
setiap single dan multievent selalu menaikkan bendera Merah Putih. Arahan dari
Bapak Presiden Jokowi soal mempersiapkan diri menjadi tuan rumah Olimpiade
2032. Saya minta PB WI mempersiapkan atlet sebaiknya dari sekarang,” urai dia.

Ketua Umum PB WI, Airlangga
Hartato yang juga Menteri Koordinator Perekonomian,menyampaikan kegiatan
festival ini perlu dukungan banyak untuk talenta baru. Ia mengaku wushu
Indonesia perlu melakukan penjaringan atlet muda guna mencetak Edgar dan
Lindswell yang dulunya mengikuti event junior yang nantinya menjadi atlet
berprestasi lantaran ditempa saat usia remaja.

“Kini wushu pun melirik
level nasional. Selama ini, wushu belum dipertandingkan di level pelajar. Maka
perlunya pertandingan wushu di level pelajar guna mendukung pembibitan atlet.
Kami ingin menyampaikan ke Pak Menpora bahwa wushu belum dipertandingkan di
level Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Wushu kiranya menjadi
prioritas. Kita sudah punya juara dunia, Asian Games, SEA Games,” kata
Ketum PB WI.

Wufest Taolu Championship 2019
memperebutkan Piala Airlangga Hartarto dan Piala Ketum PWI Pusat, diikuti 382
atlet junior dari 28 sasana yang belangsung pada 20-22 Desember 2019. Festival
ini diikuti atlet-atlet junior dari sasana DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa
Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Jambi, Sumatera Selatan,
Lampung dan Banten. Acara pembukaan juga dimeriahkan atraksi wushu oleh Wushu
Kid’s.

Penghargaan

Pada kesempatan itu diberikan
pula bonus kepada para atlet wushu yang mengukir prestasi pada SEA Games
XXX/2019 di Filipina. PB WI memberikan bonus sebesar Rp 100 juta bagi peraih
medlai emas, Rp 50 juta bagi peraih medali perak dan Rp 25 juta bagi peraih
perunggu. Sementara pelatih dan manajer tim masing-masing menerima bonus
sebesar Rp 20 juta.

Edgar Xavier Marvelo yang
merengkuh medali emas di nomor daoshu gunshu diganjar bonus Rp 100 juta. Peraih
emas nomor beregu duilian atas nama Edgar Xavier Marvelo, Haris Horatius, dan
Seeaf Naro Siregar diguyur Rp 50 juta per orang dari PB WI.

Kemudian penerima bonus medali
perak antara lain Ade Permana (sanda 48 kg), Pratama Laksamana Pandu (sanda 52
kg), Yusuf Widiyanto (sanda 56 kg), dan Haris Harotius (taolu nandao nangun dan
taolu nanquan). Atlet yang memperoleh perunggu tak luput dari apresiasi bonus.
Abdul Haris Sofyan (sanda 65 kg) dan Rosalina Simanjuntak (sanda 48 kg) yang
menjadi aktor peraih perunggu SEA Games 2019 masing-masing dihadiahkan Rp 25
juta.

“Bonus tadi diberikan di
luar dari apa yang diapresiasi pemerintah. Ini sebagai tali asih saja kepada
atlet, pelatih, dan manajer. Semoga tali asih ini bisa memotivasi atlet untuk
lebih baik lagi termasuk atlet lainnya agar bisa lebih berprestasi,” kata
Airlangga Hartarto.

Sementara itu Edgar Xavier
Marvelo mengaku senang dengan apresiasi yang diberikan PB WI. Hal tersebut akan
dijadikan motivasi dan bekal untuk menghadapi kejuaraan-kejuaraan berikutnya
maupun untuk bekal untuk kemudian hari.

“Uangnya ditabung dulu. Ke
depan banyak program yang telah saya siapkan. Salah satunya bikin sasana wushu,”
tutup Edgar.