Selasa, 13 Oktober 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

KABUT ASAP GANGGU PENERBANGAN, OPERASI MODIFIKASI CUACA PAPUA BARAT TERTUNDA

Bagikan berita:

MANOKWARI, tabloidnusantara. Upaya penanganan kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Barat menghadapi kendala. Pengiriman logistik untuk operasi modifikasi cuaca tertunda setelah pesawat pengangkut garam dialihkan ke Manado akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah Sorong.

Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rendani Manokwari, Herman Sujito, mengatakan penerbangan Batik Air dari Jakarta menuju Sorong dan Manokwari terpaksa dialihkan ke Bandara Sam Ratulangi, Manado, karena kondisi jarak pandang yang terganggu.

“Pesawat yang bawa logistik operasi modifikasi cuaca berupa garam, dialihkan ke Manado karena wilayah Sorong diselimuti kabut asap,” ujar Herman di Manokwari, Senin.

Kendala tersebut berdampak langsung terhadap rencana pelaksanaan operasi modifikasi cuaca yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Oktober 2026. Hingga Senin, logistik yang dibutuhkan untuk mendukung operasi tersebut belum tiba di Manokwari.

Herman mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait kendala pengiriman tersebut.

Sejumlah personel BNPB bersama pesawat Smart Aviation jenis Cessna Caravan yang akan digunakan dalam operasi modifikasi cuaca telah berada di Manokwari sejak Minggu (11/10). Namun, operasi belum dapat dilaksanakan karena masih menunggu kedatangan logistik.

“Tim BNPB dan pesawat yang digunakan sudah berada di Manokwari, tapi logistik belum tiba sehingga operasi modifikasi cuaca belum bisa dilakukan,” katanya.

Arah Angin Bawa Asap ke Sorong

Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Kelas II Rendani Manokwari, Cipta Utama, menjelaskan bahwa arah angin dominan dari timur membawa kabut asap menuju wilayah Sorong. Kondisi tersebut berdampak pada jarak pandang dan mengganggu keselamatan operasional penerbangan.

Gangguan di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Papua Barat Daya, turut memengaruhi kelancaran distribusi logistik yang dibutuhkan untuk operasi modifikasi cuaca di Papua Barat.

“Operasi modifikasi cuaca harusnya hari ini (Senin), tapi tertunda karena pesawat yang bawa logistik belum bisa mendarat,” ujar Cipta.

Pemda Gandeng Perusahaan Migas

Sebelumnya, Wakil Gubernur Papua Barat Mohamad Lakotani mengatakan operasi modifikasi cuaca direncanakan dengan memanfaatkan potensi awan hujan berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pemerintah daerah juga melibatkan dua perusahaan minyak dan gas bumi (migas) di Kabupaten Teluk Bintuni, yakni BP LNG Tangguh dan Genting Oil Kasuri, untuk mendukung pembiayaan kegiatan tersebut.

Lakotani menegaskan penanganan kabut asap dan karhutla perlu segera dilakukan agar dampaknya tidak semakin meluas.

“Kondisi ini (kabut asap serta kebakaran hutan dan lahan) tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Solusinya yaitu modifikasi cuaca,” kata Lakotani.

Tertundanya pengiriman logistik menjadi tantangan tersendiri bagi pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Pemerintah dan instansi terkait kini perlu memastikan distribusi logistik dapat segera dilanjutkan agar operasi yang direncanakan untuk membantu penanganan dampak karhutla tersebut dapat terlaksana.