BEKASI, tabloidnusantara. Korlantas Polri melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan maut truk molen di Jalan Cut Meutia, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kecelakaan yang melibatkan truk molen bernomor polisi B 9548 MV itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB, pada Minggu (1/11). Insiden ini menewaskan 6 orang dan melukai enam lainnya.
Kasubdit Laka Ditgakkum Korlantas Polri Mario Christy P.S. Siregar mengatakan, olah TKP dilakukan pada Senin (2/11) sebagai bentuk asistensi terhadap Polda Metro Jaya, khususnya Satlantas Polres Metro Bekasi Kota.
Dalam olah TKP tersebut, Korlantas menggunakan metode Traffic Accident Analysis (TAA) untuk mencari bukti-bukti secara ilmiah dan mendalami faktor penyebab kecelakaan, termasuk kondisi kendaraan yang terlibat.
“Di olah TKP ini kami menggunakan metode Traffic Accident Analysis. Kita mencari bukti-bukti secara scientific. Jadi untuk kecelakaan lalu lintas itu ada faktor-faktor yang harus kita dalami, baik itu kendaraannya,” kata Mario di Bekasi, Senin (2/11).
Mario menjelaskan, petugas menggunakan drone untuk memindai kontur dan geometri jalan, termasuk sudut elevasi turunan yang berpotensi memengaruhi kecepatan kendaraan.
“Tadi kita menggunakan drone kita untuk meng-scan kontur geometri jalan, apakah sudut elevasi turunannya berpotensi menambah kecepatan dan itu nanti akan kita rekonstruksi lagi,” tuturnya.
Selain memeriksa kondisi jalan, petugas juga melakukan pemindaian tiga dimensi terhadap sejumlah titik penting di lokasi kecelakaan, mulai dari titik awal, benturan pertama, hingga posisi akhir kendaraan.
Hasil pemindaian tersebut nantinya akan digunakan sebagai bukti elektronik untuk mendukung proses penyidikan kecelakaan.
“Dan itu akan dijadikan bukti elektronik begitu petunjuk di dalam proses penyidikannya nanti,” jelas Mario.
“Setelah ini kita akan ke barang bukti, kita akan melaksanakan scanning ulang terhadap kendaraan truk molennya, termasuk juga untuk jalannya,” tambahnya.
Lebih lanjut, Mario turut menyoroti lokasi halte Transjakarta di depan Kampus BSI yang berada di kawasan turunan jalan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi bahan kajian pihak terkait untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.
“Kalau kita lihat logo haltenya resmi, ada. Tetapi dari turunan jalan dan termasuk juga ada jari jalan di samping ini, mungkin akan dikaji kembali oleh pihak terkait, bukan dari kami,” katanya.
Ia mengatakan, evaluasi lokasi halte dapat dilakukan melalui forum diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD). Forum itu nantinya dapat memberikan masukan mengenai kemungkinan pemindahan halte.
“Jadi nanti akan dilaksanakan FGD untuk diberikan masukan-masukan, apakah perlu dipindah supaya tidak terjadi hal-hal yang sama,” ujar Mario.
