Senin, 26 Oktober 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

IFRC 2026 DI MIMIKA: BUKAN SEKADAR KOMPETISI, KESELAMATAN DAN NYAWA PEKERJA TAMBANG JADI TARUHAN

Bagikan berita:

TIMIKA, tabloidnusantara. Keselamatan kerja bukan sekadar aturan di atas kertas, melainkan tanggung jawab nyata yang menyangkut nyawa manusia. Pesan inilah yang mengemuka dalam pembukaan Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 Tahun 2026 di Mimika Sports Complex (MSC), Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu (24/10/2026) malam.

Ajang nasional yang mempertemukan tim-tim tanggap darurat dari sektor pertambangan dan energi di Indonesia itu bukan hanya menjadi panggung unjuk keterampilan, kecepatan, dan ketepatan dalam menghadapi keadaan darurat. Lebih dari itu, IFRC menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas industri pertambangan, terdapat manusia yang keselamatannya harus menjadi prioritas utama.

Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, yang membuka kegiatan tersebut, menegaskan bahwa penyelenggaraan IFRC juga harus menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi dan keindahan Papua Tengah kepada masyarakat Indonesia. Ia mengajak seluruh peserta dan tamu untuk membangun hubungan yang lebih erat dengan masyarakat serta berkontribusi bagi kemajuan daerah.

“Jangan hanya datang untuk membuat kompetisi, tapi rasakan betapa indahnya negeri ini. Mari kita tumbuh bersama Papua, berkarya untuk Indonesia,” ujar Meki, sebagaimana dikutip pada Minggu (25/10/2026).

Pesan tersebut menempatkan IFRC tidak semata-mata sebagai agenda industri, tetapi juga ruang untuk memperkuat kebersamaan, membuka kesempatan kolaborasi, dan mendukung pembangunan sumber daya manusia Papua menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam kegiatan itu, Meki turut didampingi Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong serta sejumlah kepala daerah dari Nabire, Puncak Jaya, Puncak, Intan Jaya, dan Dogiyai. Hadir pula Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia, Carl Tauran, bersama jajaran pimpinan perusahaan mineral di Indonesia.

Kenangan tujuh pekerja menjadi pengingat pentingnya keselamatan

Suasana pembukaan juga diwarnai pesan mendalam dari Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI), Tony Wenas, yang menyampaikan sambutan secara daring. Ia mengenang tujuh karyawan PTFI yang meninggal dunia akibat insiden tambang pada tahun sebelumnya.

Kenangan tersebut menegaskan bahwa di balik angka kecelakaan kerja, ada kehidupan manusia, keluarga yang kehilangan orang terkasih, serta masa depan yang tidak dapat dikembalikan.

Karena itu, Tony menekankan bahwa keselamatan harus menjadi nilai fundamental dalam setiap kegiatan pertambangan. Kesiapsiagaan, keterampilan, dan kemampuan merespons keadaan darurat harus terus diperkuat agar risiko kecelakaan dapat dicegah dan dampaknya diminimalkan.

“Melalui IFRC ini, mari kita memperkuat jejaring, mengasah kemampuan, dan membangun kesiapsiagaan bersama. Dari tanah Papua untuk keselamatan pertambangan Indonesia,” tegasnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan industri tidak cukup diukur melalui produksi, investasi, atau keuntungan ekonomi. Perlindungan terhadap pekerja juga merupakan bagian mendasar dari tanggung jawab perusahaan.

Membangun budaya keselamatan, bukan sekadar mengejar kemenangan

Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi, mengatakan kompetisi ini dirancang sebagai wadah untuk berbagi pengalaman, memperluas jejaring profesional, dan memperkuat budaya keselamatan di sektor pertambangan.

“Keselamatan bukan hanya prioritas, melainkan nilai dasar yang harus menjadi fondasi setiap keputusan dan tindakan,” katanya.

Melalui berbagai tantangan tanggap darurat, para peserta diharapkan dapat menguji kemampuan sekaligus meningkatkan koordinasi, disiplin, dan kesiapan menghadapi situasi berbahaya. Kompetisi menjadi sarana pembelajaran agar keterampilan yang diperoleh tidak berhenti di arena perlombaan, tetapi diterapkan dalam lingkungan kerja sehari-hari.

Pada akhirnya, IFRC ke-8 di Mimika membawa pesan yang jauh lebih besar daripada perebutan gelar juara. Di tengah risiko tinggi industri pertambangan, kecepatan penyelamatan, ketepatan mengambil keputusan, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat dapat menentukan hidup atau matinya seseorang.

Dari Papua Tengah, pesan itu perlu terus digaungkan: produksi dapat dikejar, target dapat diperbaiki, dan kerugian materi dapat dihitung. Namun, nyawa manusia tidak dapat digantikan. Budaya keselamatan harus hadir dalam setiap keputusan, setiap prosedur, dan setiap tindakan agar setiap pekerja yang berangkat mencari nafkah memiliki kesempatan yang sama untuk pulang dengan selamat kepada keluarganya.