JAKARTA, “tabloidnusantara.com”
– Demam Berdarah Dengue (DBD), mulai menjangkit banyak daerah di Indonesia,
ditengah pandemi covid-19 yang belum tau kapan akan berakhir.
Seperti halnya yang disampaikan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, kasus DBD hingga 22 Juni 2020 tercatat sebanyak 68.000 kasus.
BACA JUGA : SAMBUT HUT BHAYANGKARA KE-74, POLRES KEEROM BAGIKAN SEMBAKO
Ditengah
perang pandemi covid-19, tim kesehatan masih menemukan 100 hingga 500 kasus
perhari yang terjangkit “DBD” diseluruh Indonesia. “Dengan grafik angka
kematian yang disebabkan oleh DBD mencapai 346 kasus. “Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jawa Timur merupakan daerah dengan kasus kematian yang
tinggi,” ungkapnya.
Data
yang terhimpun oleh kemenkes, ada 10 provinsi dengan zona merah penyebaran
kasus DBD, Yakni Jawa Barat 10.594 kasus, Bali 8.930 kasus, NTT 5.432 kasus,
Jawa Timur 5.104 kasus, Lampung 4.983 kasus, NTB 3.796 kasus, DKI Jakarta 3.628
kasus, Jawa Tengah 2.846 kasus, Riau 2.143 kasus, dan Sulawesi Selatan 2.100
kasus. “tegasnya.
Kedepan Target pemerintah dengan mengacu pada tahun 2016, Indonesia yang pernah mengalami kejadian luar biasa kasus demam berdarah dengan angka kematian yang cukup lumayan tinggi 20%. “Target ke depan tidak ada yang meninggal akibat demam berdarah. Tuturnya.
Laporan
dari 460 Kabupaten/Kota yang melaporkan kasus demam berdarah, sebanyak 439
diantaranya melaporkan juga terdapat kasus Covid-19. Sehingga terjadi infeksi
ganda.
Jadi
kalau terinfeksi Covid-19 dia juga dapat beresiko terinfeksi
demam berdarah. Karena pada prinsipnya sama, demam berdarah adalah penyakit
yang belum ada obatnya, vaksinnya belum terlalu efektif dan satu cara
mencegahnya kita menghindari gigitan nyamuk. Ini sama-sama virus,” “Pungkasnya.