Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

960 TITIK API KEPUNG TANAH PAPUA, PAPUA SELATAN PALING TERANCAM KARHUTLA

JAYAPURA, tabloidnusantara. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Tanah Papua semakin mengkhawatirkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mencatat 960 titik panas (hotspot) dalam pemantauan selama 24 jam hingga 27 Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, Papua Selatan menjadi wilayah dengan konsentrasi titik api tertinggi, mencapai 307 titik. Sebarannya meliputi Kabupaten Mappi 155 titik, Merauke 143 titik, Asmat delapan titik, dan Boven Digoel lima titik.

Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Winona Puspa Betari, mengatakan data tersebut merupakan hasil pemantauan hotspot pada 26 Agustus pukul 02.00 WIT hingga 27 Agustus 2026 pukul 02.00 WIT.

“Sebanyak 960 titik hotspot terpantau di seluruh Tanah Papua,” kata Winona di Jayapura, Kamis.

Secara keseluruhan, hotspot didominasi tingkat kepercayaan sedang sebanyak 844 titik atau 87,9 persen. Sementara tingkat rendah tercatat 58 titik dan tingkat tinggi juga 58 titik.

Merauke menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus karena terdapat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Kondisi tersebut mengindikasikan potensi kebakaran lahan yang perlu segera diantisipasi.

Selain Papua Selatan, hotspot dalam jumlah besar juga terdeteksi di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, dengan 108 titik.

El Nino Perbesar Ancaman

Ancaman karhutla diperkirakan tidak berhenti pada tingginya jumlah titik panas. BMKG menyebut kondisi atmosfer saat ini menunjukkan indikasi El Nino yang sangat kuat, yang berpotensi memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah Papua.

Winona menjelaskan, hasil pemantauan menunjukkan nilai Southern Oscillation Index (SOI) berada pada -18,3, sedangkan indeks Nino 3.4 mencapai +2,37.

Kondisi tersebut berpotensi memicu penurunan curah hujan, bertambahnya hari tanpa hujan, berkurangnya ketersediaan air, meningkatnya suhu siang hari, serta membuat vegetasi dan lahan semakin kering.

Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Situasi ini membuat potensi karhutla semakin tinggi apabila tidak diikuti dengan pengawasan dan pencegahan yang ketat.

Dengan 307 hotspot di Papua Selatan, pemerintah daerah tidak bisa menunggu api membesar baru bertindak. Deteksi dini, patroli lapangan, pelibatan masyarakat adat, serta kesiapan personel dan peralatan menjadi langkah mendesak untuk mencegah titik panas berubah menjadi kebakaran yang meluas.