KLATEN, “tabloidnusantara.com” – Melalui jaringan Video
Conference, Pemkab Klaten beserta jajaran melaksanakan Sidang Komisi Andal, membahas
analisis dampak lingkungan dari pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN)
jalan tol Solo – Yogyakarta.
Sekretaris Daerah Klaten Jaka Sawaldi, pada saat memimpin rapat menyampaikan bahwa, isu yang berkembang dibidang pertanian lestari, menjadi persoalan yang menonjol selain menyangkut keberadaan jalur irigasi dan sumber air, tetapi juga nasib petani kedepannya.
Jalur yang dilalui mega proyek jalan tol Solo – Yogyakarta,
salah satunya “Lereng Merapi yang menjadi daerah resapan air dari atas untuk
memenuhi pengairan lahan pertanian. “ujarnya.
Sidang dihadiri 10 camat, 48 kepala dan delapan tokoh
masyarakat Kabupaten Klaten, dan terbagi dalam empat titik lokasi, Video
Conference, untuk mendengarkan penjelasan konsultan PT Adi Karya selaku
pelaksana proyek.
Disisi lain sidang tersebut juga bertujuan untuk
menampung semua aspirasi masyarakat terdampak proyek tol sepanjang 35,6 Km,
meliputi trase Jawa Tengah dan Yogyakarta yang melintasi tiga kabupaten. “tegasnya.
Jaka, juga menambahkan aspek ekonomi tidak kalah
penting, dimana ini akan menjadi jalur distribusi sayur-mayur, dari lereng
Merapi yang menjadi sumber kebutuhan masyarakat. Diharapkan akses jalan
distribusi tersebut juga mempertimbangkan keberadaan jalur truk pengangkut
material pasir dari lereng Merapi.
Dari hasil pemantauan Setiap hari ada 2.000 truk pasir
yang beroperasi di Klaten. Bagaimana nanti pembangunan tol itu tidak mengganggu
jalur angkutan pasir. Belum lagi dampak pengurangan lahan pertanian. Tentunya
hal ini akan berpengaruh langsung terhadap petani seperti jatah bantuan pupuk
akan berkurang. Belum lagi petani yang terpaksa kehilangan mata pencaharian.
Hal ini sangat penting untuk menjadi masukan,” jelas Jaka Sawaldi.
Tugiran (58) warga Duwet, Kebonarum, Klaten menyampaikan, di desanya ada sumber air yang bakal terkena lintas jalan tol. Sedangkan sumber air itu, meskipun tidak besar namun sangat membantu pasokan air bagi petani saat musim kemarau
BACA JUGA : TINGKATKAN PENDIDIKAN DIPERBATASAN, TNI BANTU WARGA BANGUN PAUD
“Di desa kami itu ada sumber mata air yang sangat
dibutuhkan petani. Hampir 35% petani sangat tergantung pada mata air ini, dan
dampaknya akan terasa,” ungkapnya.
Menurut Tugiran, selain sumber mata air, masyarakat
juga memikirkan nasib lahan pemakaman warga.
“(Lahan) pemakaman ini bagi warga adalah terkait
dengan nasib leluhurnya. Belum lagi jika pembangunan tol nanti harus membelah
dua dukuh. Harapannya (dengan) adanya jalan penghubung, akan membantu warga
dalam berinteraksi,” ujarnya.