JAYAWIJAYA, tabloidnusantara. Ketika sorak budaya seharusnya menggema di Lembah Baliem, yang terdengar justru letusan senjata. Di tengah Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) di Walesi, warga sipil kembali menjadi korban.
Dan kali ini, penolakan datang dari dalam. Dari tanah Mimika.
Kepala Suku Besar Kamoro, Timotius Samin, angkat bicara. Nada suaranya tegas, tanpa kompromi: kekerasan terhadap rakyat sipil harus dihentikan.
“Ini Tidak Bela Siapa-siapa. Ini Lukai Kita Sendiri” katanya.
Dalam keterangan resmi, Selasa 11/8/2026, Timotius mengutuk aksi penembakan yang menimpa warga di sekitar area festival.
“Saya mengutuk keras tindakan penembakan terhadap masyarakat sipil. Tindakan seperti ini tidak dapat dibenarkan dan hanya akan merugikan masyarakat serta mengganggu keamanan dan kedamaian di Tanah Papua,” ujarnya.
Bagi Timotius, logika senjata sudah kedaluwarsa. Yang lahir dari peluru bukan kemerdekaan, tapi trauma, pengungsian, dan sekolah yang kosong.
“Keamanan dan kedamaian adalah tanggung jawab bersama yang harus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, bukan dirusak oleh segelintir kelompok bersenjata,” tegasnya.
Sinyal Retak: Mayoritas Adat Menolak Jalan Darah
Pernyataan seorang Kepala Suku Besar Kamoro bukan hal kecil. Kamoro adalah salah satu rumpun besar di pesisir selatan Papua. Ketika suara adat sekelas ini menolak metode kekerasan, artinya ada garis pemisah yang semakin jelas: antara perjuangan politik dan pengorbanan warga biasa.
Ini sinyal penting. Bahwa narasi “demi rakyat” tidak bisa lagi dipakai untuk membenarkan peluru yang menembus dada orang tak bersenjata.
Yang dikorbankan bukan pejabat, bukan tentara. Yang jatuh adalah pedagang, ibu-ibu, anak-anak yang datang ke FBLB untuk merayakan budaya, bukan perang.
Jangan Jadikan Takut Sebagai Warisan
Timotius menitipkan pesan yang lebih dalam dari sekadar kecaman. Ia tidak ingin Jayawijaya diliputi ketakutan.
Ia berharap insiden ini menjadi cermin, bukan pemicu. Cermin untuk semua pihak agar kembali ke nilai dasar: kemanusiaan.
Festival budaya seharusnya ruang merayakan identitas. Bukan ruang di mana identitas itu dipertaruhkan dengan nyawa.
“Pertanyaannya sekarang, jika para tetua adat sudah bicara sekeras ini, siapa lagi yang masih butuh korban berjatuhan untuk percaya bahwa kekerasan tidak pernah menang?” Tutupnya
