KARAWANG, tabloidnusantara. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman turun langsung ke sawah yang kekeringan di Desa Sindangsari, Kecamatan Kutawaluya, Karawang, Senin (31/8). Ia menolak penanganan kekeringan hanya dibahas di ruangan.
“Kita jangan sibuk berdebat rapat dan seterusnya, kita harus lihat langsung ke lapangan,” tegas Amran saat meninjau areal persawahan.
Sidak ini untuk memastikan 63 unit pompa air bantuan Kementerian Pertanian yang disalurkan ke kelompok tani di Karawang benar-benar terpasang dan berfungsi.
“Hasilnya nyata. Pompa sudah dipasang di lahan yang kekeringan. Terima kasih kepada Dirjen SDA Kementerian PU,” ujar Amran.
Menurutnya, penanganan kekeringan tidak bisa dipantau dari Jakarta. Data di lapangan harus dicek satu per satu agar bantuan tepat sasaran.
Amran memaparkan, hingga kini kekeringan memetakan sekitar 30.000 hektare lahan sawah dari total 11 juta hektare tanaman padi nasional. Titik-titiknya tersebar di Jawa dan luar Jawa.
Untuk mengatasinya, pemerintah telah menyiapkan puluhan ribu pompa serta alsintan mulai dari alat panen hingga traktor.
Di Karawang saja, ada sekitar 3.000 hektare lahan yang bisa diselamatkan produktivitasnya lewat pompanisasi.
“Kalau 3.000 hektare ini tembus 7 ton gabah per hektare, dengan harga Rp6.500 per kg, maka tambahan pendapatan petani bisa sekitar Rp136 miliar,” hitung Amran.
Ia optimistis Karawang sebagai lumbung padi nasional tidak akan terganggu produksinya secara signifikan akibat kemarau tahun ini, selama pompa terus dioperasikan.
Amran meminta kelompok tani menjaga dan mengoptimalkan pompa bantuan. Ia juga mengapresiasi Pemkab Karawang dan Kementerian PU yang bergerak cepat menyalurkan bantuan.
