JAKARTA, tabloidnusantara. Kerusuhan yang pecah setelah aksi demo di depan Gedung DPR/MPR, Kamis 27 Agustus malam, memakan satu korban jiwa. Polda Metro Jaya mengonfirmasi seorang warga meninggal dunia setelah sempat dievakuasi dalam kondisi kritis dari kawasan Pejompongan, Jakarta Barat.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, menyampaikan duka cita saat konferensi pers di Jakarta, Jumat (28/8).
“Pertama kami sampaikan belasungkawa terhadap satu warga kita yang berpulang,” ujar Budi.
Menurut Budi, petugas baru bisa masuk ke lokasi setelah mendapat laporan masih adanya kerusuhan di Pejompongan. Proses evakuasi sempat tertunda karena situasi belum aman.
Setelah berhasil dievakuasi, korban pria itu ditemukan dalam keadaan pingsan. Ia langsung dilarikan ke RS Angkatan Laut Mintoharjo, rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian.
“Rumah sakit terdekat adalah RS Angkatan Laut Mintoharjo, tapi pada saat penanganan di rumah sakit, yang bersangkutan meninggal dunia,” jelasnya.
Jenazah kemudian dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi dan visum.
Polisi berencana melakukan autopsi untuk memastikan penyebab kematian. Namun permintaan itu ditolak pihak keluarga.
“Kami tetap melakukan permohonan untuk melakukan autopsi untuk diketahui penyebab kematian, ditolak oleh pihak keluarga. Di satu sisi kami empati, sehingga pihak penyidik belum bisa meminta keterangan lebih lanjut,” kata Budi.
Penolakan autopsi membuat penyidik belum bisa menggali keterangan lebih jauh terkait kronologi pasti yang menyebabkan korban meninggal.
Kerusuhan di Pejompongan terjadi beberapa jam setelah massa menggelar aksi di depan Kompleks Parlemen. Hingga Jumat siang, Polda Metro Jaya belum merilis secara rinci berapa orang yang diamankan dan total kerugian materiil akibat insiden tersebut.
Kasus ini menambah daftar korban dalam rangkaian aksi demonstrasi di Jakarta selama sepekan terakhir. Polisi menyebut saat ini masih melakukan pendalaman dan mengumpulkan bukti-bukti di lapangan.
