TIMIKA, tabloidnusantara. Tudingan itu dibantah keras. Juru Bicara TPNPB-OPM Sebby Sambom menegaskan kelompoknya tidak terlibat dalam penyanderaan sembilan warga perempuan di Distrik Jila, Mimika.
“Tak ada laporan dari kami lakukan itu. Hal-hal begini biasanya lebih akurat laporan dari gereja,” tegas Sebby, Kamis (20/8).
Kronologi Versi Aparat
Aparat keamanan melaporkan insiden terjadi Senin, 17 Agustus 2026. Kelompok bersenjata diduga membawa paksa sembilan perempuan warga setempat ke arah hutan.
Dari data keluarga, berikut identitas 9 korban yang masih dalam pencarian:
– Namerina/Nemerina Wamang, 17 tahun, kondisi hamil muda
– Alin Mesawarol, siswi kelas VI SD
– Nopi Aim, siswi kelas IV SD
– Opinte Meswaro, siswi kelas III SD
– Yonita Senawatme, 18 tahun
– Meria Nibilingame, 15 tahun
– Wena Katagame, 18 tahun
– Ilimin Onawame, 18 tahun
– Miante Nibilingame,13 tahun
Dua ibu disebut ikut jadi korban karena mencoba menghalangi.
Neregingget Magai, 48 tahun, ditembak hingga meninggal di tempat. Jenazahnya dikremasi secara adat.
Inkolung Aim, dilempar ke jurang dan mengalami patah tulang kaki.
Aparat memperkirakan jumlah pelaku sekitar 15 orang. Hingga 19-20 Agustus, nasib sembilan perempuan itu masih dalam penelusuran.
Polres Mimika sudah melakukan olah TKP dan menambah personel di Polsek Jila. TNI-Polri juga melakukan pengejaran dan penebalan kekuatan di wilayah tersebut. Bantuan Brimob Batalyon B diminta untuk membackup.
Di sisi lain, Sebby Sambom kembali menekankan tidak ada perintah maupun laporan internal dari TPNPB-OPM terkait aksi di Jila. Ia menyebut untuk kasus seperti ini, informasi dari pihak gereja di lapangan biasanya lebih akurat.
Kini keluarga masih menunggu kepastian. Sementara aparat terus menyisir hutan-hutan di sekitar Distrik Jila untuk menemukan para korban.
