Kamis, 24 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

POLISI SELIDIKI KERACUNAN MASSAL PMT DI BATANG, BUBUR KACANG DIDUGA PENYEBABNYA

Bagikan berita:

BATANG, tabloidnusantara. Polisi masih menyelidiki kasus dugaan keracunan massal program Pemberian Makanan Tambahan di Desa Rowobelang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Sorotan mengarah pada bubur kacang hijau yang dibuat pagi hari namun baru dibagikan sore hari.

Kasat Reskrim Polresta Batang Kompol Bintoro Thio Pratama mengatakan dari hasil penyelidikan sementara, makanan kacang hijau tersebut dibuat pada pagi hari dan semestinya diberikan pada pagi hari juga. Namun karena ada kendala, makanan baru dibagikan sore hari dan diduga menjadi pemicu keracunan.

“Memang dari hasil penyelidikan, untuk makanan kacang hijau tersebut dibuat pada pagi hari dan memang seyogyanya diberikan pada pagi hari. Akan tetapi karena ada satu dua hal, kemudian diberikan sore hari dan itu yang kemungkinan menjadi salah satu penyebab keracunan,” kata Bintoro saat ditemui di Mapolresta Batang, Rabu 23 September 2026.

Meski dugaan awal mengarah pada keterlambatan pembagian, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti.

Sampel bubur kacang hijau telah diamankan bersama muntahan sejumlah pasien untuk diperiksa di laboratorium forensik di Semarang.

“Untuk hasil lab sendiri kami sudah mengambil sampel untuk bubur kacang hijau sendiri, kemudian dari muntahan beberapa pasien, itu kami ambil hasilnya untuk kami labforkan ke Semarang. Jadi masih menunggu hasilnya,” jelas Bintoro.

Selain bubur kacang hijau, polisi juga mengamankan barang bukti lain yang diduga berkaitan yakni roti tawar dan tahu bacem yang menjadi bagian dari menu PMT.

Hingga Rabu siang 23 September, korban masih menjalani perawatan. Dinas Kesehatan Kabupaten Batang mencatat 14 orang masih rawat inap di RSUD Kalisari Batang.

Kasi Surveilans, Imunisasi dan KLB Dinkes Batang Khairunnisa menyebutkan total ada 27 orang rawat jalan.

“Update tanggal 23 September, rawat jalan total ada 27 orang, rawat inap di RSUD Batang ada 14 orang,” jelasnya.

Jumlah tersebut bertambah dibanding Selasa 22 September yang mencatat 31 rawat jalan dan 10 rawat inap.

Total warga bergejala mencapai 41 orang terdiri dari 13 laki-laki dan 28 perempuan dengan keluhan muntah, pusing, sakit perut, dan diare beberapa jam setelah menyantap menu PMT yang dibagikan Senin sore 21 September di Dukuh Rowosoko, Desa Rowobelang.

Dinkes Batang telah melakukan penyelidikan epidemiologi, analisis data kasus, investigasi higiene sanitasi, komunikasi risiko, surveilans aktif, dan pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan. Sampel yang dikirim meliputi kacang hijau, roti tawar, tahu bacem, feses kasus, dan air sumur bor.

“Tindakan Dinkes, melakukan penyelidikan epidemiologi, analisis data kasus, investigasi higiene sanitasi, komunikasi risiko, surveilans aktif dan pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan,” ungkap Khairunnisa.

Dugaan basi akibat jeda panjang antara waktu pembuatan dan pembagian menjadi pintu masuk penyelidikan. Polisi menunggu hasil labfor untuk memastikan apakah bubur kacang hijau benar menjadi sumber keracunan massal di Rowobelang.