JAYAPURA, tabloidnusantara. Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mencatat penurunan drastis sebaran titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah enam provinsi di Tanah Papua, yakni dari 3.487 titik pada periode 19–20 Oktober menjadi 628 titik panas pada pemutakhiran data terkini per Jumat (23/10/2026).
Meskipun terjadi penurunan sebesar 78%, BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat gabungan, serta pemangku kepentingan untuk tetap menjaga kewaspadaan tinggi. Hal ini mengingat musim kemarau masih berlangsung dan konsentrasi titik api di sejumlah kawasan berpotensi memicu paparan kabut asap, gangguan kualitas udara, risiko ISPA, serta hambatan jarak pandang penerbangan.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Sri Dewi Sundari, memaparkan bahwa dari total 628 titik api yang terdeteksi, sebanyak 406 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang (64,6%), 149 titik tingkat kepercayaan tinggi (23,7%), dan 73 titik tingkat kepercayaan rendah (11,6%).
“Meskipun tren titik api di Tanah Papua menunjukkan penurunan yang signifikan, potensi dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat dan operasional moda transportasi darat maupun udara tetap harus diwaspadai. Pemerintah daerah dan seluruh instansi terkait diharapkan terus memperkuat koordinasi, pemantauan peringatan dini, serta kesiapsiagaan personel dan sarana pemadam,” ujar Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Sri Dewi Sundari, di Jayapura, Jumat (23/10).
Sebaran titik panas karhutla di wilayah Tanah Papua saat ini meliputi:
- Provinsi Papua Selatan (483 Titik): Menjadi titik konsentrasi terbesar, tersebar di Kabupaten Merauke (338 titik), Kabupaten Mappi (90 titik), dan Kabupaten Boven Digoel (55 titik).
- Provinsi Papua Pegunungan: Terdeteksi 86 titik api.
- Provinsi Papua Barat: Terdeteksi 43 titik api.
- Provinsi Papua: Terdeteksi 11 titik api.
- Provinsi Papua Barat Daya: Terdeteksi 5 titik api.
- Provinsi Papua Tengah: Nihil (tidak terdeteksi titik api).
BMKG mengimbau jajaran Pemerintah Daerah di seluruh Papua Selatan dan Papua Pegunungan untuk terus mengoptimalkan sinergi Satgas Karhutla, penguatan respon darat, serta sistem peringatan dini berbasis fenomena dinamika atmosfer guna mencegah meluasnya tutupan asap di kawasan pemukiman dan objek vital bandara.
