PELETAKAN BATU PERTAMA MENTERI MUHADJIR EFFENDY, PADA PEMBANGUNAN 47 RUMAH LAYAK HUNI - https://tabloidnusantara.com/

PELETAKAN BATU PERTAMA MENTERI MUHADJIR EFFENDY, PADA PEMBANGUNAN 47 RUMAH LAYAK HUNI

SURAKARTA, “tabloidnusantara.com” – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia, Muhadjir Effendy, secara simbolis meletakan batu pertama pembangunan 47 rumah layak huni di kawasan Semanggi dan Mojo Kecamatan Pasar Kliwon.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa program RTLH, pembangunan 47 rumah layak huni, juga menegaskan bebas kawasan kumuh di Kawasan Semanggi Pasar Kliwon sudah tidak ada.

BACA JUGA :

GIBRAN, TARGETKAN SOLO BEBAS PEMUKIMAN KUMUH

Penanganan kawasan kumuh oleh Pemerintah dan swasta atau CSR, ini Lebih cepat dari target 2023, nanti kita harapkan selesai pada tahun ini. Bahkan di wilayah Semanggi Selatan sudah bisa ditempati dan akan dijadikan model penyelesaian kemiskinan ekstrim di seluruh kota-kota di Indonesia. “ujar Muhadjir Effendy.

“Solo sebagai pilot project atau model yang nanti diharapkan menjadi semacam prototipe, untuk menyelesaikan persoalan pemukiman kumuh di daerah lain, saat ini program sudah mulai berjalan. Dia menargetkan penataan kawasan kumuh Kota Solo rampung pada 2022. ” katanya.

Sumber dana tersebut, antara lain berasal dari program tanggung jawab sosial (CSR) perusahaan yang digandeng pemerintah. Bentuk dari penataan kawasan itu, antara lain adalah pembangunan rumah layak huni di kawasan Mojo, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo. Pihaknya akan mempercepat pembangunan rumah layak huni, termasuk membantu mencarikan sumber dari CSR untuk pembangunan rumah layak huni.

Muhadjir menjelaskan, penataan kawasan kumuh penting dilakukan. Hal ini merupakan langkah awal untuk pengentasan kemiskinan.

BACA JUGA :

PEMKAB DAN BAZNAS JEPARA SERAHKAN ZAKAT PRODUKTIF KEPADA WARGA KURANG MAMPU

“Ini penanganan tema besarnya kemiskinan, lebih spesifik kemiskinan ekstrem yang 70 persen di wilayah kantong. Karena di kantong, maka pendekatannya ekosistem, tidak bisa orang per orang, rata-rata umumnya pasti tinggal di rumah tidak layak huni, kumuh, sanitasi jelek dan langka air bersih, pendekatan tidak mungkin tidak dengan pendekatan lingkungan,” terangnya. (Kontributor Kota Surakarta)

Sumber : https://jatengprov.go.id/

Tabloid Nusantara

Membuka Wawasan Dan Mencerdaskan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *