DUKA PAPUA DAN MENGHILANGNYA PARA PEJUANG PAPUA.
- Pendahuluan.
Seminggu sudah Papua berduka dan bersedih dengan adanya bencana di Sentani – Jayapura, dan dalam waktu satu minggu ini juga kita orang Papua bahkan Indonesia belajar dari artinya toleransi dari Papua dan satu hal yang sangat penting untuk kita orang Papua pelajari adalah siapa saudara kita sebenarnya? Apakah mereka yang hanya lantang berteriak menuntut kemerdekaan Papua dengan alasan agar Orang Papua bisa menjadi tuan ditanah sendiri ataukah mereka yang selalu disebut dengan sebutan kolonial yang juga berbeda warna kulit dengan kita tapi bisa ikut berduka ketika Papua dilanda duka dan juga menetaskan air mata bahkan memberi dari kekurangan mereka karena mereka anggap kita adalah saudara? Hanya kita yang melihat dengan hati yang mampu menjawabnya.
-

Berbagi dengan saudara – saudara mereka yang menjadi korban bencana. Bakso yang biasa mereka jual, kali ini mereka sediakan secara gratis dan cuma – cuma
2. Orang Papua Belajar Siapa
Saudara Sesungguhnya.
Bencana alam yang terjadi
semuanya tidka terlepas dari kehendak Tuhan dan kita semua umat yang percaya
mengimani hal itu karena segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini adalah
kehendak Tuhan, duka kita telah berlalu dan kita harus bangkit kembali. Dalam
duka kita semua mendapat pelajaran hidup yang penting dimana saudara – saudara
kita dari Sabang – Merauke turut merasakan duka yang kita alami di Papua. Saya
sendiri melihat bagaimana saudara – saudara kita yang selama ini selalu
dikatakan sebagai kolonial maupun penjajah, merekalah yang selalu ada sejak
bencana itu terjadi, merekalah yang mengorbankan waktu bahkan mampu berbagi
dari kekurangan mereka untuk membantu saudara – saudara kita di Sentani. Mereka
membantu dengan ikhlas tanpa ada paksaan karena apa? Karena mereka Papua adalah
saudara mereka, Papua adalah bagian dari Indonesia yang ketika Papua menangis
maka Papua ikut menangis.
Ada satu hal yang sangat
menyentuh saya ketika hari minggu kemarin saya dalam perjalanan ke Bandara
Sentani untuk berangkat balik ke Jakarta setelah 3 hari saya berada di Sentani
untuk memberikan bantuan bagi saudara – suadara saya, ditengah perjalanan
menuju bandara saya berpapasan dengan segerombol penjual bakso yang menggunakan
motor, jumlah sekitar 30an motor dan mereka dalam pengawalan Polisi, saya pun
bingung dan bertanya dalam hati kemana mereka akan pergi? Karena penasaran saya
memutuskan untuk mengikuti mereka dari belakang dan alangkah terkejutnya saya
ketika saya melihat langsung bahwa mereka hadir di Sentani untuk berbagi dengan
saudara – saudara mereka yang menjadi korban bencana. Bakso yang biasa mereka
jual, kali ini mereka sediakan secara gratis dan cuma – cuma.
Sungguh kasih yang luar biasa
yang mereka tunjukan dalam kekurangan pun mereka masih mampu berbagi, kasih
seperti inilah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita dan mereka yang tidak
seiman dengan kita mampu menunjukan itu dalam duka kita saat ini.
3. Hilangnya pejuang Papua
yang hanya mampu berkoar tanpa bertindak.
Duka Sentani – Papua sudah
seminggu ini dan Sentani mulai bangkit membangun kembali puing-puing tangisan
yang tersisa, tapi, dimanakah mereka yang katanya berjuang bagi bangsa Papua?
Dimanakah Beny Wenda? Dimanakah Viktor Yeimo? Dimanakah Socratez Yoman?
Dimanakah Laurenz Kadepa? Dimanakah KNPB? Dimanakah ULMWP? Dimanakah OPM?
Tidakkah kalian lihat Papua sedang menangis? Dimana uluran tangan kalian untuk
membantu saudara – saudara kita? Dengan hebat dan lantang kalian sering
berteriak bahwa kalianlah yang berjuang untuk Papua, tetapi ketika Papua
menangis, kalian semua menghilang tanpa jejak bahka untuk mengotori tangan
kalian demi mengangkat jenasah saudara – saudara kalian pun tidak terjadi sama
sekali.
Terima kasih untuk semua
tindakan kalian ini, karena dari semua ini *kami orang Papua belajar bahwa
keluarga kami sebenarnya adalah Indonesia, saudara kami sebenarnya adalah
mereka yang berbeda warna kulit dengan kami tetapi mempunyai hati dan belas
kasih seperti kami.*
*Duka kami adalah Duka
Indonesia.Karena kami Papua, kami Indonesia.*
Oleh. Johan Efraim Rumbino.
Jakarta, 25 Maret 2019.

