PURWOKERTO, tabloidnusantara. Setiap Rabiul Awal, masjid penuh. Mikrofon ramai. Shalawat menggema, kisah sirah diputar ulang. Tapi begitu lampu dimatikan, yang tersisa sering kali sama: keluarga retak karena kata kasar, kolom komentar penuh caci maki, dan tetangga yang saling curiga.
Di titik inilah akademisi UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Muridan, melempar pertanyaan yang tidak nyaman: untuk apa kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kalau perilakunya tidak pernah kita praktikkan?
“Makna Maulid semestinya tidak hanya berhenti pada seremoni, lantunan shalawat atau pengisahan perjalanan hidup Rasulullah. Ia harus mendorong refleksi terhadap relevansi nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masyarakat kontemporer,” katanya di Purwokerto, Selasa.
Kalimat itu telak. Karena persoalan kita hari ini bukan kurangnya ceramah. Kita kekurangan contoh.
Ketika Akhlak Dipisah dari Agama
Muridan menyebut 5 kata yang seharusnya jadi barometer: jujur, kasih sayang, adil, hormat, dan tanggung jawab moral. Kedengarannya sederhana. Tapi coba cek realitasnya.
Di rumah, kekerasan verbal dinormalisasi atas nama “mendidik”. Di sekolah, guru kadang lebih sibuk konten daripada keteladanan. Di media sosial, menghina dan menghakimi jadi mata pencaharian. Sikap individualistis tumbuh subur, sementara empati dihapus.
“Manusia tidak hanya belajar melalui nasihat, juga melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Nilai moral akan lebih mudah hidup ketika tidak hanya disampaikan dalam bentuk kata-kata, tetapi diperlihatkan melalui tindakan nyata,” ujarnya.
Itu tamparan bagi kita yang rajin share kutipan Nabi, tapi masih mudah memaki orang berbeda pendapat di Threads.
Uswah Hasanah di Era Algoritma
Rasulullah SAW disebut Muridan sebagai uswah hasanah. Teladan dalam menghadapi perbedaan, memperlakukan keluarga, berbicara, merespons kesalahan, dan membangun hubungan sosial.
Masalahnya, generasi sekarang belajar bukan hanya dari orang tua dan guru. Mereka belajar dari influencer, seleb, dan algoritma yang memberi makan amarah.
“Pendidikan akhlak harus dimulai dari ruang terdekat seperti keluarga dan lingkungan sekitar,” tegasnya.
“Cara berbicara kepada pasangan, memperlakukan anak, merespons perbedaan dengan tetangga, hingga memperlakukan orang lain merupakan cerminan kualitas akhlak,” katanya.
Artinya Maulid tidak boleh berhenti di panggung. Ia harus masuk dapur, ruang kelas, grup WhatsApp RT, dan kolom komentar.
Dari Seremoni ke Transformasi
Muridan mengusulkan pergeseran yang radikal tapi sederhana:
– Di keluarga: budaya bicara lembut, bukan membentak.
– Di pendidikan: guru yang mempraktikkan nilai, bukan hanya menuliskannya di papan.
– Di masyarakat: kepedulian nyata, bukan sekadar donasi saat viral.
– Di ruang digital: cek dulu kebenaran informasi, tahan jari dari menghina, jaga etika komunikasi.
“Akhlak bukan pelengkap agama. Akhlak merupakan wajah agama dalam kehidupan sosial,” katanya.
Dan wajah itu sedang diuji. Di tengah masyarakat yang beragam seperti zaman Nabi, perbedaan tidak boleh jadi alasan permusuhan. Ia harus dikelola dengan penghormatan dan adab.
Maulid tahun ini bisa jadi sama seperti tahun lalu: ramai, meriah, lalu selesai.
Atau bisa jadi berbeda: saat kita berhenti bertanya “sudah berapa kali khatam sirah” dan mulai bertanya “hari ini saya sudah meneladani Rasul dalam hal apa”.
Karena kalau shalawat tidak mengubah cara kita memperlakukan manusia, maka mungkin yang kita rayakan bukan kelahiran Nabi. Yang kita rayakan hanya kebisingan.
