REMBANG, tabloidnusantara. Sebanyak 750 murid dan guru SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah diduga mengalami keracunan makanan setelah mengikuti program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Gejala diare muncul serentak sejak Kamis pagi, 3 September 2026, hingga membuat kamar mandi sekolah tidak mampu menampung antrean.
Kepala SMAN 1 Lasem, Juhartutik, mengatakan laporan pertama masuk saat jam pelajaran dimulai. Guru mulai menerima aduan siswa yang bolak-balik ke toilet.
“Kemudian kami perintahkan didata di setiap kelas. Ternyata ada puluhan siswa per kelas yang mengaku diare,” kata Juhartutik dalam keterangannya, Kamis, 3 September 2026.
Dari pendataan 33 kelas, terkumpul 725 siswa. Ditambah 25 guru, total korban mencapai 750 orang.
“Ketika saya tanya berapa kali diare, ada yang jawab enam kali sampai tujuh kali. Artinya memang diare,” ujarnya.
Kondisi semakin parah karena antrean di kamar mandi membludak. Pihak sekolah akhirnya memutuskan memulangkan seluruh siswa setelah berkoordinasi dengan Cabang Dinas Pendidikan.
“Yang benar-benar butuh layanan kesehatan kami bawa ke puskesmas dengan ambulans,” beber Juhartutik.
Kepala Puskesmas Lasem, dr. Joko Paryanto, mengonfirmasi hingga Kamis siang ada 17 orang yang datang ke IGD. Rinciannya 12 siswa dan 5 guru.
Belum ada keterangan resmi dari Dinas Kesehatan Rembang maupun penyelenggara MBG terkait menu yang disajikan dan hasil uji laboratorium.
Peristiwa ini menambah daftar panjang kasus dugaan keracunan MBG di sejumlah daerah sejak program diluncurkan. Di SMAN 1 Lasem, proses belajar mengajar sempat lumpuh karena sebagian besar warga sekolah harus fokus pada penanganan.
Hingga berita ini ditulis, tim dari Puskesmas Lasem masih melakukan pemantauan dan pendataan tambahan. Sekolah juga diminta mencatat menu MBG yang dikonsumsi pada Rabu dan Kamis pagi untuk bahan penyelidikan.
Kasus ini bermula Kamis pagi ketika siswa mulai mengeluh diare saat masuk kelas. Setelah dilakukan pendataan, jumlahnya mencapai 750 orang. Sekolah kemudian memulangkan seluruh siswa dan merujuk sebagian korban ke Puskesmas.
Saat ini semua pihak menunggu hasil investigasi dari Dinas Kesehatan dan penyelenggara MBG untuk memastikan sumber keracunan.
