Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

KORBAN KERACUNAN MBG DI KARO, FEBIOLA TERUS ALAMI PENURUNAN KONDISI DAN HILANG INGATAN 70%

KARO, tabloidnusantara. Kabut duka masih menyelimuti rumah Icuk Sugiarto Purba di Kabupaten Karo, Sumatra Utara. Sejak pertengahan Agustus, hidup keluarga itu berputar di antara lorong rumah sakit, resep dokter, dan tagihan yang tak kunjung berhenti.

Anak bungsu mereka, Febiola Br Purba, kini terbaring di ruang perawatan intensif dengan ingatan yang terkikis hampir tujuh puluh persen setelah diduga menjadi korban keracunan Makan Bergizi Gratis.

” Kami sejujurnya agak kesulitan dengan biaya, karena tidak mungkin hanya makan saja. Kadang-kadang harus membeli kebutuhan anak kami,” ucap Icuk denga suaranya terdengar lelah.

Sebagai buruh tukang kebun, dan dengan istri yang biasanya berjualan kerupuk di dekat sekolah, pemasukan keluarga terhenti sejak mereka memutuskan mendampingi Febiola berobat.

Perjalanan Febiola dimulai pada 13 Agustus 2026. Dalam waktu kurang dari sebulan, gadis itu sudah dipindahkan ke lima rumah sakit. Dari RS Kabanjahe, lalu ke RS Efarina, berlanjut ke RS Haji Medan, RSUP Adam Malik, dan saat ini dirawat di RS Amanda di Karo.

Senin, 7 September, rencana rujuk kembali ke RSUP Adam Malik sudah dijadwalkan tim medis.

Dokter yang menanganinya memberi kabar berat. Perawatan Febiola diperkirakan berlangsung setahun penuh, dengan kontrol setiap minggu.

Kondisi neurologisnya merosot jauh. Icuk menggambarkan anaknya kini seperti balita tiga tahun. Febiola tidak lagi mengenali teman sekelas, gurunya, bahkan adik dan barang-barang miliknya sendiri.

” Ya semuanya dia lupa. Contohnya, teman-teman sekelasnya dia lupa. Waktu kami pulang dari rumah sakit Haji, dia bertemu sama adiknya, dan saya bapaknya dia sudah tidak kenal. Padahal mereka itu duduk sama-sama,” kata Icuk dengan nada tercekat.

Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, Febiola membutuhkan perawatan khusus yang menguras tabungan. Susu formula khusus harus dibeli dua kali dalam seminggu, masing-masing seharga Rp180.000. Belum lagi makanan dan vitamin yang wajib sesuai anjuran dokter. Hingga kini keluarga sudah mengeluarkan sekitar Rp3,5 juta, semuanya dari tabungan.

” Kalau tidak ada pemasukan, tapi pengeluaran terus sampai kapan kalau begini terus. Saya tidak sanggup kalau melihat kondisi anak saya itu,” ujarnya.

Bantuan sejauh ini baru datang dari forum warga, pihak sekolah, dan sumbangan masyarakat. Bantuan langsung dari pemerintah, kata Icuk, belum mereka terima. Karena itu ia menuntut pertanggungjawaban dari penyelenggara program MBG dan aparat penegak hukum.

” Pesan saya, semoga pihak-pihak tersebut bisa bertanggung jawab atas masalah ini. Agar memberikan perawatan dan pengobatan terbaik kepada anak saya, dan mengarahkan kepada dokter-dokter yang terbaik,” harapnya.

Ia juga mendesak evaluasi menyeluruh terhadap program MBG.

” Program MBG itu sangat bagus. Tapi karena sudah ada korban-korban seperti ini, anak-anak SMA, SMP, ini tidak diinginkan mereka menjadi korbannya. Jadi itu sudah kelalaian,” tegasnya.

Menurut keterangan dokter, penyebab sakit Febiola mengarah pada dua kemungkinan, bakteri atau racun jamur. Kepastian hasil laboratorium baru akan diketahui dalam 10 hingga 14 hari ke depan. ” Sekarang kondisi anak saya ini, kalau tidak racun, ada bakteri beracun,” kata Icuk.

Hingga berita ini ditulis, keluarga belum membuat laporan resmi ke polisi. Fokus mereka saat ini hanya satu, membuat Febiola sembuh. Sementara dapur di rumah sudah lama tidak mengepul seperti biasa.

” Kami sudah tidak kerja, kami mau makan dari mana kalau menjaga anak kami terus,” pungkas Icuk.