Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

KEBAKARAN DAN KEKERINGAN DI JAWA BARAT CAPAI 325 HEKTARE LUDES Dan RATUSAN RIBU KK KEHABISAN AIR

BANDUNG, tabloidnusantara. Hingga awal September 2026 Jawa Barat menghadapi dua bencana sekaligus. Api melahap lahan dan hutan, sementara sumur-sumur warga mengering. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jabar mencatat situasi darurat ini sudah menyebar luas dan menuntut penanganan ekstra.

Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar Hadi Rahmat Hardjasasmita menyebut sampai 8 September tercatat 193 kejadian kebakaran lahan dan hutan di 121 kecamatan. Total area yang hangus mencapai 325,87 hektare.

Titik api tidak hanya muncul di satu wilayah. Sebarannya paling parah terpantau di Majalengka, Sukabumi, Subang, Sumedang, Bandung, Kuningan, Cirebon, hingga Pangandaran.

Kondisi paling kritis terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai Blok Cileutik, Desa Singkup, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan. Sejak Senin 7 September api membakar sekitar 40 hektare kawasan konservasi itu.

Tim gabungan dari petugas TNGC, BPBD Kuningan, TNI, Polri, dan aparatur setempat masih bekerja memadamkan dengan cara manual dan jetshooter.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyampaikan update pada Rabu 9 September malam.

Pada pukul 20.00 WIB titik api di Ciremai sudah tidak terlihat. Namun tim belum bisa lengah. Penyekatan dan pendinginan terus dilakukan untuk mencegah bara hidup kembali.

Di sisi lain, kekeringan menghantam lebih banyak wilayah. BPBD Jabar mencatat 205 kecamatan terdampak dengan 215.424 kepala keluarga kesulitan air bersih.

Untuk meredam dampak terparah, BPBD Jabar bersama BNPB mengerahkan 17,69 juta liter air bersih ke daerah-daerah yang paling krisis.

Berton menegaskan baik kebakaran Gunung Ciremai maupun gelombang kekeringan di berbagai daerah kini menjadi atensi serius pemerintah pusat dan daerah. Koordinasi penanganan diperketat agar bantuan bisa tepat sasaran dan cepat sampai.

Meski hingga kini tidak ada laporan korban jiwa, BPBD Jabar tidak menampik tantangan di lapangan masih besar.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tambahan personel, peralatan pemadam karhutla yang memadai, serta dukungan logistik untuk tim yang berjibaku di hutan dan desa-desa kekeringan.

Dua bencana ini memperlihatkan betapa rapuhnya Jabar di puncak musim kemarau panjang. Lahan terbakar, sumber air menipis, dan ratusan ribu keluarga menunggu bantuan datang. Pemerintah daerah kini diuji, seberapa cepat dan seberapa kuat respons yang bisa dikerahkan sebelum kerusakan meluas lebih jauh.