JAKARTA, tabloidnusantara. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto akan berkantor di Kalimantan Tengah. Keputusan diambil untuk mengawal langsung penanganan kebakaran hutan dan lahan yang masih diselimuti kabut asap.
Menurut keterangan Kementerian Kehutanan, keputusan dua pejabat tersebut salah satunya untuk mengawal operasi modifikasi cuaca sebagai upaya pemadaman dari udara.
Menhut Raja Antoni menegaskan pemerintah akan memaksimalkan segala potensi yang ada.
Langkah tersebut merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto agar dampak karhutla terhadap masyarakat dapat diminimalisir.
”Kami akan maksimumkan segala potensi yang ada, karena ini juga perintah Bapak Presiden agar dampak karhutla terhadap masyarakat dapat diminimalisir,” ujar Raja Antoni.
Rencana berkantor di Kalteng juga dikonfirmasi Kepala BNPB Suharyanto. Keputusan diambil di tengah kondisi kabut asap yang belum membaik dan hujan yang tak kunjung turun selama sepekan terakhir di Kalimantan Tengah.
”Kami berdua juga yang tadinya hanya berkunjung kembali memutuskan untuk beberapa hari berkantor di Kalimantan Tengah,” kata Suharyanto, Senin.
Suharyanto menjelaskan keduanya akan bertahan di Kalteng sampai operasi modifikasi cuaca berhasil dan hujan turun. Harapannya hujan dapat membantu membuka cuaca yang saat ini dipenuhi kabut asap.
”Supaya sampai dengan nanti operasi modifikasi cuacanya berhasil, hujan turun, paling tidak sedikit membantu terbukanya cuaca yang sekarang dipenuhi oleh kabut asap,” katanya.
Ia merujuk data luas lahan terbakar yang sebelumnya mencapai sekitar 180 hektare.
Satgas darat mampu memadamkan sekitar 150 hektare dalam sehari sehingga tersisa sekitar 30 hektare yang masih dalam proses pemadaman. Namun penanganan belum selesai karena setiap hari muncul titik baru dan lahan gambut yang sudah padam dapat kembali menyala.
Tantangan terbesar saat ini adalah kabut asap. Tidak ada teknologi yang bisa langsung menghilangkan asap. Menurut Suharyanto hanya dua faktor yang dapat mengurai asap, yakni angin dan hujan. Karena itu pemerintah mengupayakan hujan melalui modifikasi cuaca.
Kendala sempat muncul karena satu pesawat modifikasi cuaca yang berada di Bandara Cilik Riwut tidak dapat beroperasi akibat jarak pandang rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, operasi akan dipindahkan ke Bandara Syamsudin Noor dan Bandara Pangkalan Bun mulai malam berikutnya dengan mempertimbangkan potensi hujan berdasarkan prediksi BMKG.
Dengan berkantor langsung di Kalteng, pemerintah ingin memastikan penanganan karhutla berjalan tanpa jeda. Modifikasi cuaca menjadi tumpuan utama untuk mendatangkan hujan di tengah gambut yang mudah terbakar dan asap yang terus mengepung warga.
