Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

EMPATI UNTUK FLORES, TAK ADA PESTA DALAM PERAYAAN HUT KE-81 RI

KUPANG, tabloidnusantara — Di tengah derap upacara 17 Agustus, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Laka Lena, memilih menahan sorak pesta. Tahun ini peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di NTT sengaja digelar sederhana. Alasannya satu, empati untuk saudara di Flores yang baru diguncang gempa.

“Ini bagian dari kami turut merasakan kondisi yang terjadi di Pulau Flores,” kata Melki, sapaan akrabnya, usai upacara di Kupang, Senin 17 Agustus 2025.

Tak Ada Pesta, Langsung Kerja

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Pemprov NTT meniadakan kegiatan seremonial dan pesta rakyat setelah upacara. Penurunan bendera sore ini pun dibuat senyap. Tanpa tambahan acara, tanpa tos kenegaraan.

“Setelah acara ini tidak ada agenda yang lain, langsung kita bubar. Masing-masing koordinasi dengan instansinya, dengan jalurnya, untuk persiapan penanganan mulai siang hari ini dan seterusnya,” tegasnya.

Bagi Melki, menghemat energi dan anggaran di hari kemerdekaan adalah bentuk nyata keberpihakan. Fokus pemerintah sekarang: mempercepat koordinasi bantuan untuk Flores.

Ia juga meminta seluruh kepala daerah di daratan Flores tetap menggelar upacara. Tapi cukup bendera, cukup khidmat.

“Kemerdekaan tetap kita rayakan, tapi dengan cara yang pantas di tengah duka.”ujarnya.

Satu hal yang tetap jalan: Pameran Pembangunan Provinsi NTT. Bukan karena abai, tapi karena di baliknya ada lebih dari 600 pelaku UMKM yang hidupnya bergantung pada event itu.

Bedanya, pameran tahun ini diubah jadi gerakan solidaritas. Setiap keuntungan dan donasi yang masuk akan disalurkan untuk penanganan bencana di Flores.

“Pada akhir pelaksanaan pameran nanti akan diumumkan berapa total donasi yang berhasil dihimpun dari masyarakat Kota Kupang dan sekitarnya untuk kita salurkan bagi masyarakat yang terdampak gempa di Flores,” ujar Melki.

Di tengah kabar duka, Gubernur mengajak warga NTT tidak kehilangan optimisme. Justru semangat kemerdekaan harus jadi bahan bakar untuk bangkit.

Ia mengingatkan lagi warisan Bung Karno yang dirumuskan di Ende: gotong royong.

“Dengan semangat gotong royong kita bisa melewati badai sejarah apa pun. Yang penting bersama-sama dan gotong royong,” tegasnya.

Tahun ini bendera Merah Putih tetap naik di Kupang. Tapi sorotan mata para pemimpin dan warganya, tertuju ke barat: ke Flores yang sedang berjuang berdiri lagi.