Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BUDAYA

DI PELATARAN CANDI ARJUNA, RAMBUT GIMBAL DIPOTONG DAN WARISAN, TRADISI , BUDAYA DIENG YANG TERUS HIDUP

BANJARNEGARA, tabloidnusantara. Udara Dieng diakhir Agustus menggigil. Di kompleks Candi Arjuna, tembang Dandanggula mengalun pelan. Di bawahnya, 13 anak berambut gimbal berjalan khidmat. Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini ruwatan.

Mereka disebut anak bajang. Datang dari Banjarnegara, Wonosobo, bahkan ada yang keluarganya kini tinggal di luar Jawa Tengah. Sebelum cukur, mereka dikirab dari rumah sesepuh adat menuju pelataran candi. Di sinilah permintaan mereka harus dipenuhi dulu.

Khanza dari Serang minta enam daster seperti milik ibunya. Malayeka dan Winda sama-sama menunjuk sepeda listrik pink. Mafaza ingin sepeda ungu dan diajak jalan-jalan di Dieng. Hafizah meminta laptop dan sepasang ayam kalkun.

Prosesi pemotong rambut gimbal, tradisi warisan leluhur Dieng.

Laira Anindya Maryam, 11 tahun, siswi kelas VI asal Kertek Wonosobo, hanya minta satu hal: rambut gimbalnya dipotong di Dieng. Gimbal itu tumbuh sejak usia 3 tahun, sempat dipotong di rumah saat ia diejek teman, lalu tumbuh lagi.

“Semoga nanti bisa normal lagi rambutnya,” kata Laira lirih. Ibunya, Rizky, menuturkan keinginan itu sudah ada sejak kecil, tertunda karena pandemi. Jam tangan renang sudah dibelikan, tapi permintaan cukur di Dieng tak pernah ganti.

Cerita sama terdengar dari Anna, ibu Checilia dan Cheeryl. Sang kakak minta cukur di Dieng sejak usia 2 tahun, bahkan sebelum tahu ada Dieng Culture Festival. Adiknya ikut.

Pembawa acara ruwatan, Chaerudin, memandu tiap tahapan. Menurut kepercayaan masyarakat Dieng, anak laki-laki gimbal adalah titipan Kyai Kaladete, anak perempuan titisan Nini Ronce. Rambut itu biasanya muncul setelah demam tinggi saat bayi, sekitar usia 40 hari sampai 6 tahun. Semakin banyak anak bajang, kata warga, semakin baik pula kondisi sosial dan ekonomi Dieng.

Ruwatannya tidak sembarangan. Harus sesuai weton. Keluarga menyiapkan tumpeng, ingkung ayam kampung, gunting, air bunga setaman, beras, uang logam, dan payung. Setelah permintaan anak dikabulkan, barulah bagian yang menggimbal dipotong. Tidak semua rambut. Potongannya dibungkus kain mori putih lalu dilarung ke Telaga Balikambang.

Usai cukur, semua larut dalam Ngalap Berkah. Pejabat, warga, pelaku budaya, dan wisatawan mancanegara duduk bersama makan. Tidak ada sekat.

Tradisi ini kini dikemas Pokdarwis Dieng Pandawa lewat DCF sejak 2010. Festival sempat berhenti 2023 karena penataan kawasan oleh Kementerian PUPR. Namun maknanya tidak berubah: ruwatan adalah cara membuang sukerta dan memohon keselamatan.

Jumlah anak bajang tidak pernah dicatat pasti. Mereka ada di Banjarnegara, Wonosobo, Batang, bahkan Jakarta dan Yogyakarta. Selama ada garis keturunan Dieng, ruwatan tetap bisa dilakukan.

Tembang mereda. Rambut sudah dilarung. Permintaan anak-anak sudah dipenuhi.

Di balik kemeriahan DCF, ruwatan mengingatkan satu hal: tradisi Dieng hidup karena masih dipercaya, masih diminta anak-anaknya, dan masih diwariskan orang tuanya. Dari sehelai rambut gimbal yang dipotong di Candi Arjuna, yang dijaga masyarakat Dieng justru lebih panjang, identitas, nilai, dan kebijaksanaan yang harus sampai ke generasi berikutnya.