JAKARTA, tabloidnusantara. Setelah empat bulan menghirup udara beracun dan empat jilid aksi di daerah tak digubris, enam mahasiswa dari Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan akhirnya mendatangi Jakarta pada Rabu (28/10) untuk satu desakan: tetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan sebagai bencana nasional.
Mereka datang bukan dengan rombongan besar. Hanya tiga perwakilan dari Kalimantan Tengah dan tiga dari Kalimantan Selatan. Namun yang mereka bawa adalah angka yang sulit diabaikan.
Perwakilan Aliansi Mahasiswa Kalimantan Naomi Artika Simamora mengatakan kabut asap telah membuat lebih dari 100.000 warga di Kalimantan Tengah terpapar infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Korban terbanyak adalah kelompok yang paling rentan, bayi, anak-anak, dan lansia.
“Asalkan kalian tahu, 4 bulan lebih kami masyarakat Kalimantan menghirup udara beracun,” ujar Naomi.
Menurut Naomi, pemerintah di Kalimantan belum mengambil langkah efektif. Desakan agar pemerintah pusat menetapkan karhutla sebagai bencana nasional pun tak kunjung disuarakan secara tegas dari daerah. Ia menilai kepentingan politik turut menghambat penanganan bencana tersebut.
Perjuangan itu bukan baru dimulai. Mahasiswa Kalimantan Tengah sebelumnya telah menggelar aksi Aliansi Kalimantan Tengah Melawan hingga jilid keempat dengan membawa sembilan tuntutan. Namun hingga kini tuntutan tersebut belum membuahkan hasil sesuai harapan, termasuk belum ditandatanganinya tuntutan oleh gubernur.
Karena jalan di daerah buntu, mereka memilih membawa aspirasi itu langsung ke pusat.
Momentumnya dipilih bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 dalam demonstrasi #Indonesia Sadar di Bundaran HI, Jakarta, yang digawangi Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar).
