BANDUNG, tabloidnusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan cuaca ekstrem yang merusak lebih dari 500 rumah dan fasilitas umum di Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, dipicu kondisi atmosfer pada masa peralihan musim kemarau menuju hujan.
Ketua Tim Meteorologi dan Klimatologi Stasiun Geofisika BMKG Bandung Muhamad Iid Mujtahiddin di Bandung, Rabu, mengatakan fenomena hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es berpotensi terjadi selama masa transisi musim.
“Hujan lebat atau ekstrem atau ada angin kencang, angin puting beliung atau juga hujan es ini bisa terjadi selama masa transisi. Bisa dibilang masuk peralihan musim dan tidak ada batasan. Musim hujan diprediksi dasarian dua bulan November ini,” katanya.
Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin puting beliung melanda Kecamatan Padalarang pada Senin (26/10), mengakibatkan lebih dari 500 rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan dengan tingkat ringan hingga berat.
Iid mengatakan secara umum sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk KBB, berpotensi mengalami hujan ringan, tetapi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai kilat, petir, dan angin kencang masih berpeluang terjadi secara lokal dengan durasi singkat.
“Selama beberapa hari ke depan kondisi kelembapannya ketinggian 700 mb atau 3,5 km di atas permukaan laut, relatif cukup lembab. Ini mendukung adanya potensi pertumbuhan awan hujan,” ujarnya.
Potensi pertumbuhan awan konvektif tersebut turut dipengaruhi suhu muka laut yang relatif hangat sehingga mendukung suplai uap air, aktivitas gelombang atmosfer Rossby Ekuator dan Madden-Julian Oscillation (MJO), serta kondisi labilitas atmosfer kategori sedang hingga kuat.
Iid menjelaskan fenomena El Nino juga masih memengaruhi kondisi cuaca meskipun wilayah Jawa Barat mulai memasuki peralihan menuju musim hujan.
Fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, tetapi intensitasnya diprakirakan mulai menurun pada November hingga Januari.
BMKG mengimbau masyarakat dan instansi terkait meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
“Tetap tenang namun siaga, mengenali risiko di lingkungan sekitar, serta selalu memperbarui informasi cuaca dan mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana,” kata Iid.
