DHARMASRAYA, tabloidnusantara. Bupati Dharmasraya Annisa Suci Ramadhani menegaskan sikap tegas terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menyebut hutan bukan warisan untuk dibakar, apalagi disulap menjadi kebun sawit.
Meski lebih dari tiga minggu terakhir tidak ditemukan titik panas di Dharmasraya, kewaspadaan tidak boleh kendur.
“Sejak 9 September, Satgas Karhutla tingkat nagari rutin berpatroli,” kata Annisa.
Patroli dilakukan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan sekaligus mendeteksi dini potensi kebakaran. Setiap laporan titik panas dari petugas maupun dashboard SIPONGI langsung dikoordinasikan untuk pemadaman cepat sebelum api meluas.
Bupati Annisa juga mendorong pemulihan kawasan bekas karhutla. Lahan hutan yang pernah terbakar dipasangi papan larangan pengolahan menjadi perkebunan, termasuk sawit. Pemulihan dilakukan dengan penanaman kembali tanaman hutan.
Selain pemulihan, penegakan hukum menjadi prioritas. Pembukaan lahan dengan cara membakar tetap akan ditindak sesuai ketentuan.
Pemda juga membuka ruang solusi bagi masyarakat yang terkendala biaya membuka lahan tanpa bakar. Annisa menegaskan keterbatasan modal bukan pembenaran untuk membakar hutan.
Ia mengingatkan dampak karhutla dirasakan luas, terutama di tengah cuaca ekstrem akibat El Nino yang membuat api cepat menjalar. Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia menjadi korban asap.
“Hutan bukan sekadar lahan kosong yang bebas dibakar demi keuntungan sesaat. Keberhasilan bukan cuma soal berapa luas kebun yang bisa dibuka, tetapi berapa banyak hutan yang berhasil diselamatkan,” tegas Annisa.
