Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

ABU GUNUNG ANAK KRAKATAU CAPAI 6 PROVINSI

JAKARTA, tabloidnusantara. Erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tidak hanya mengguncang laut. Abu vulkaniknya kini telah menyebar hingga enam provinsi di Pulau Jawa dan Sumatra, menimbulkan keluhan kesehatan pada warga dan memaksa pemerintah daerah turun tangan membersihkan jalan.

‎Data citra satelit menunjukkan dua lapisan abu bergerak ke arah berbeda, salah satunya menembus ketinggian yang menjadi jalur pesawat internasional.

‎Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG melaporkan sebaran abu Gunung Anak Krakatau pada Minggu berdasarkan citra satelit Himawari-9.

‎Lapisan pertama berada dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki. Abu ini bergerak ke arah tenggara hingga selatan dan menyelimuti sebagian Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.

‎Lapisan kedua jauh lebih tinggi. Mencapai 50.000 kaki, abu terbawa angin ke barat daya dan barat laut. Wilayah yang terdampak meliputi sebagian Banten dan Lampung, lalu merambah ke Bengkulu, Sumatra Selatan, Sumatra Barat, Selat Sunda bagian selatan, hingga Samudra Hindia di sebelah barat.

Ketinggian itu merupakan rute penting penerbangan internasional sehingga potensi gangguan terhadap lalu lintas udara perlu diwaspadai.

‎Dampak di darat sudah terasa. Di Lampung, sebaran abu dilaporkan dari Lampung Selatan, Bandar Lampung, Pesawaran, hingga Tanggamus. Warga mulai merasakan gangguan.

‎Desi, warga Bandar Lampung, mengaku tidak nyaman saat berkendara Sabtu kemarin. “Tadi terasa seperti ada debu masuk waktu bawa kendaraan. Napas jadi agak sesak dan tenggorokan terasa tidak nyaman. Mata juga jadi perih,” katanya.

‎Hal serupa dialami anak Kiki di Pesawaran. Setelah bermain di luar rumah, anaknya mengeluh mata perih, hidung tidak nyaman, dan beberapa kali bersin.

‎Di Banten, hujan abu turun di Kabupaten Serang dan sejumlah wilayah lain. Sanan, warga Kecamatan Cinangka, merasakan abu mulai menebal sejak sore.

“Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai,” ujarnya.

‎Adji Ramadhan juga merasakan perih di mata saat melintas di Jalan Raya Cilegon-Anyer-Cinangka. “Abunya tipis, tetapi itu bikin sakit ke mata,” ucapnya.

‎Merespons kondisi ini, Pemerintah Kota Bandar Lampung melakukan penyemprotan air di sejumlah ruas jalan protokol yang tertutup abu sejak Sabtu. Wali Kota Eva Dwiana berharap langkah itu dapat mengurangi debu yang beterbangan dan mengganggu masyarakat maupun pengguna jalan.

‎Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan bahwa erupsi tidak berhenti di kawah. Abu yang terbawa angin bisa menempuh ratusan kilometer dan masuk ke rumah warga. Dengan sebaran yang sudah mencapai enam provinsi dan ketinggian yang mengganggu jalur penerbangan, warga diimbau menggunakan masker, kacamata, dan mengurangi aktivitas di luar ruangan hingga kondisi membaik.