Selasa, 3 November 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

BUKAN SEKADAR ANGKA, JAKARTA INGIN INVESTASI BERBUAH LAPANGAN KERJA, BENARKAH?

Bagikan berita:

JAKARTA, tabloidnusantara. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kembali memperkuat kolaborasi dengan investor dengan target besar: mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, dan membawa Jakarta masuk 20 besar kota global pada 2045.

Target itu ditegaskan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo dalam acara High Tea Reception East Ventures x Jakarta City Government di Balairung, Balai Kota Jakarta, Senin.

Pramono memamerkan fondasi ekonomi Jakarta yang diklaim masih kuat.

“Kinerja ekonomi Jakarta masih kuat, hal ini terbukti dari pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2026 yakni 5,52 persen, di atas nasional 5,29 persen. Kemudian kontribusi terhadap perekonomian Indonesia yang sekitar 16,32 persen,” kata Pramono.

Angka itu memang di atas nasional. Kontribusi 16,32 persen terhadap perekonomian Indonesia juga bukan angka kecil. Tapi pertanyaan kritisnya: apakah pertumbuhan itu sudah diterjemahkan menjadi lapangan kerja yang layak, UMKM yang naik kelas, dan layanan publik yang lebih baik, atau masih berhenti di angka makro dan presentasi investasi?

Pramono sendiri mengakui fokusnya bukan hanya besarnya nilai investasi.

“Fokusnya bukan hanya besar nilainya. Peluang investasi Jakarta sangat luas, mulai dari transportasi terintegrasi, kawasan berorientasi transit, air dan sampah, ketahanan pesisir, kendaraan listrik, kesehatan, pariwisata, hingga infrastruktur digital,” ujar Pramono.

Daftar sektor itu luas dan ambisius. Dari transportasi hingga ketahanan pesisir, dari sampah hingga infrastruktur digital. Di sinilah ujian sesungguhnya: investor tidak hanya butuh janji sektor, tapi kepastian perizinan, kepastian hukum, dan birokrasi yang tidak berbelit.

Pemprov DKI mengklaim terus meningkatkan kemudahan perizinan dan layanan investasi terpadu untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif serta memberikan kepastian bagi investor.

Klaim ini yang akan diuji di lapangan. Sebab selama ini, keluhan klasik pelaku usaha bukan kurangnya peluang, melainkan lambatnya perizinan dan ketidakpastian implementasi di tingkat teknis.

Pramono menilai perusahaan modal ventura seperti East Ventures memiliki peran strategis dalam menghubungkan startup, talenta digital, dan UMKM Jakarta dengan akses permodalan, teknologi, serta jaringan bisnis internasional.

Melalui kolaborasi tersebut, Pemprov berharap semakin banyak pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan mengembangkan bisnis, meningkatkan daya saing, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kami sangat berharap mudah-mudahan kerja sama dengan East Ventures ini bisa dilakukan dengan baik-baik. Tentunya kami dengan senang hati membuka diri untuk bisa bekerja sama,” katanya.

Kerja sama ini bisa menjadi momentum, jika tidak berhenti di seremoni high tea. Ukurannya jelas: berapa startup dan UMKM Jakarta yang benar-benar dapat pendanaan, berapa lapangan kerja baru yang tercipta, dan seberapa besar investasi itu menurunkan pengangguran dan ketimpangan di Jakarta.

Jakarta mengejar 20 besar kota global 2045. Tapi kota global tidak hanya dinilai dari pertumbuhan PDB dan jumlah investor yang datang. Kota global dinilai dari kualitas hidup warganya, transportasi yang terintegrasi, air bersih yang mengalir, sampah yang terkelola, dan pesisir yang terlindungi.

Jika Pemprov serius, kolaborasi dengan East Ventures ini harus dibuktikan dengan target terukur, transparan, dan bisa diaudit publik, bukan sekadar optimisme di Balai Kota.