BIAK, tabloidnusantara. Kemunculan titik api yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Biak Numfor, Papua, memicu kekhawatiran warga. Pemerintah daerah dan pihak terkait didorong memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus meningkatkan penyampaian informasi mengenai perkembangan situasi kepada masyarakat.
Warga menilai penanganan di lapangan perlu didukung peralatan pemadaman yang lebih mudah dibawa menuju lokasi yang sulit dijangkau, terutama kawasan berhutan dan wilayah dengan akses melalui jalur pegunungan. Yohana (27), warga Taman Mandow, Distrik Samofa, mengatakan munculnya kembali titik api membuat masyarakat belum merasa sepenuhnya aman dari ancaman karhutla.
“Kami sangat mengapresiasi penanganan Karhutla oleh berbagai pihak. Tapi jujur saja hingga saat ini kami yang bermukim di Biak Numfor masih terus diselimuti kekhawatiran karena titik api baru kerap muncul,” kata Yohana di Biak Numfor, Sabtu (29/8/2026).
Menurut Yohana, kekhawatiran warga tidak hanya disebabkan oleh keberadaan titik api, tetapi juga kondisi udara yang masih terdampak asap. Ia mengatakan kabut asap masih dirasakan masyarakat, terutama pada malam hari.
“Kabut asap masih terasa, khususnya malam hari. Menjelang tengah malam, asap terasa semakin tebal,” ujarnya.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat masyarakat berharap pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api yang telah terdeteksi, tetapi juga memperkuat pemantauan untuk mencegah munculnya titik api baru.
Yohana juga menduga sebagian kemunculan titik api berpotensi berkaitan dengan aktivitas manusia yang disengaja. Namun, ia menegaskan dugaan tersebut perlu dibuktikan melalui pemeriksaan dan penyelidikan oleh pihak berwenang.
“Kami berharap setiap titik api yang muncul dapat segera ditelusuri penyebabnya, sehingga apabila memang ada unsur kesengajaan, bisa ditindak sesuai aturan,”

Warga juga meminta pemerintah daerah memperkuat sistem informasi publik mengenai perkembangan karhutla. Informasi mengenai lokasi titik api, kondisi asap, langkah pemadaman, hingga perkembangan situasi dinilai penting agar masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan.
Selain itu, ketersediaan peralatan pemadam yang ringan dan mudah dibawa menjadi kebutuhan mendesak, khususnya untuk menjangkau kawasan yang sulit diakses kendaraan.
Menurut Yohana, karakteristik wilayah Biak Numfor yang memiliki kawasan berhutan membuat penanganan karhutla membutuhkan strategi dan peralatan yang disesuaikan dengan kondisi medan.
“Kalau akses ke lokasi sulit, tentu petugas membutuhkan alat yang bisa dibawa masuk ke wilayah pegunungan dan kawasan hutan. Jangan sampai api terlambat ditangani karena persoalan akses dan peralatan,” katanya.
Warga berharap penguatan pemantauan, kecepatan respons, ketersediaan peralatan serta keterbukaan informasi dapat dilakukan secara bersamaan. Langkah tersebut dinilai penting agar kemunculan titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan berdampak terhadap masyarakat.
