Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
KESEHATAN

TAK MENGENAL LELAH, DAMKAR SEMARANG HADAPI BELASAN LAPORAN KEBAKARAN

SEMARANG, tabloidnusantara. Sirene meraung silih berganti. Minggu 6 September 2026 menjadi hari yang melelahkan bagi petugas Pemadam Kebakaran Kota Semarang. Dalam waktu kurang dari 24 jam, laporan kebakaran datang bertubi-tubi dari berbagai penjuru kota.

Wakil Komandan Peleton Damkar Kota Semarang, Muhammad Husein Yunus Ananta, menyebut jumlahnya belasan. Ia baru saja menyelesaikan pemadaman di kawasan Pedagang Kaki Lima Jatisari, Kecamatan Mijen.

“Laporannya waduh banyak sekali. 11 kayaknya,” kata Nanta.

Sejak tengah malam petugas sudah bergerak. Kebakaran lahan dilaporkan pertama kali di wilayah Genuk. Tak lama berselang, api muncul lagi di sekitar TPA Jatibarang Mijen, lalu di lahan kosong dekat Stasiun Tawang. Siang hingga sore, giliran Jabungan di Gedawang dan PKL Jatisari Mijen yang meminta pertolongan. Di sela itu, ada pula laporan kebakaran rumah hunian di daerah Mangkang.

Bagi Nanta, padatnya laporan bukan alasan untuk mengeluh. Itu sudah menjadi bagian dari tugas.

“Keluh kesah tidak ada, karena memang sudah tugas kita. Memang kita disiapkan, dibentuk, untuk keadaan seperti ini. Ini jobdesk kita, kita harus tetap semangat melayani masyarakat,” ujarnya.

Kondisi di lapangan membuat waktu istirahat dan makan sering terpotong. Nanta mengaku sudah terbiasa mendapat panggilan mendadak di tengah makan.

Kelelahan juga menumpuk karena sehari sebelumnya mereka baru menangani beberapa kebakaran besar di kawasan Kota Lama, dilanjut kebakaran malam, dan pagi ini kembali turun ke lapangan.

“Oh, itu sudah sering dan biasa. Jadi kita memang dilatih untuk keadaan seperti itu,” ungkap Ananta.

“Kalau hari ini alhamdulillah tadi sudah makan, cuma kondisi agak kurang fit karena kemarin kejadian beberapa kebakaran besar di Kota Lama, lanjutnya malam kebakaran lagi, sorenya masih ini lagi. Terus berlanjut,” lanjutnya.

Dalam satu sif, biasanya lima personel bertugas selama sekitar delapan jam. Meski tubuh sedang kurang fit, Nanta menegaskan pelayanan tidak boleh kendor.

“Satu sif biasanya lima personel. Walaupun sakit tetap harus untuk masyarakat kita berikan yang terbaik,” ujarnya.

Melihat maraknya kebakaran saat musim kemarau, Nanta mengingatkan warga untuk menahan diri membakar sampah. Ia khawatir bara dan bunga api yang tertiup angin bisa memicu kebakaran di tempat lain tanpa disadari.

“Tolong jangan melakukan pembakaran dulu. Karena kita tidak tahu hasil dari pembakaran itu ada abu atau bunga api yang berterbangan. Mungkin bisa menimbulkan kebakaran di tempat lain,” jelasnya.

“Biasanya kalau sudah bakar-bakar sampah itu ditinggal. Nah, itu baranya tertiup angin. Itu tidak diketahui. Tahu-tahu di lokasi lain terjadi kebakaran,” sambungnya.

Selain itu, warga juga diminta mengecek instalasi listrik di rumah. Hal sederhana seperti mencabut charger ponsel setelah selesai digunakan dinilai penting untuk mencegah korsleting.

“Pesan kami selama kemarau ini tolong dijaga, jangan sampai bakar-bakar. Untuk instalasi listrik juga dicek. Terutama HP, kalau sudah ngecas chargernya dilepas,” pungkas Nanta.

Di tengah cuaca kering dan angin kencang, kerja Damkar Semarang belum bisa berhenti. Satu laporan padam, laporan lain sudah menunggu.