JAKARTA, tabloidnusantara. Panas menyengat, malam Jakarta Utara terasa menusuk. Di trotoar Kampung Bandan, Pademangan, 12 buruh PT SMT sudah lebih dari sebulan tidur di bawah tenda biru yang mereka dirikan sendiri.
Aksi dimulai Senin, 13 Juli 2026. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026, tenda itu belum juga dibongkar. Di dalamnya ada kompor, panci, tikar, dan jadwal jaga bergilir. Di luar, aspal dan deru truk pelabuhan jadi saksi bisu.
Mereka mogok bukan karena ingin. Mereka mogok karena buntu.
“Dilempar ke Sana-Sini, Tidak Ada Jawaban”
Cipta Saputra, salah satu buruh yang ikut bertahan, masih ingat jelas awal mula semuanya. Seorang anggota serikat buruh mendapat surat PHK di tengah jam kerja.
Saat buruh meminta penjelasan, jawabannya malah berputar.
“Tidak ada keputusan jelas, tidak ada informasi jelas. Dilempar karena keputusan SMT, SMT ditanya katanya keputusan MAS. Ini simpang siur pergerakannya, kita bingung,” kata Cipta saat ditemui di lokasi aksi.
MAS adalah perusahaan alih daya yang disebut bekerja sama dengan PT SMT.
Kebingungan itu berlanjut. Juni dan Juli 2026, giliran Cipta dan beberapa buruh lain yang menerima surat PHK. Alasannya sederhana: peremajaan sopir.
Buruh tidak diam. Mereka ajak bicara lewat perundingan bipartit. Buntu. Mereka bawa ke mediasi di sejumlah instansi. Hasilnya nihil.
“Tuntutan enggak harus dipenuhi saat itu juga, sambil bisa berjalan. Kenapa lama? Balik lagi, perusahaan tidak pernah ada yang menemui kita,” ujar Cipta.
Hidup Serba Terbatas di Pinggir Jalan
Empat persoalan besar yang mereka bawa: PHK sepihak, status dan kontrak kerja yang tidak jelas, upah di bawah ketentuan, dan dugaan tunggakan pembayaran BPJS.
Untuk bertahan, mereka memasak sendiri. Beras, lauk, dan sayur datang dari patungan. Kadang ada kiriman solidaritas dari buruh PT lain yang mampir membawa bahan baku.
Soal mandi dan ke toilet? Mengandalkan fasilitas umum.
“Ada masjid kita pakai masjid, ada pom bensin pakai pom bensin, ada rumah warga yang terbuka ya kita pakai,” kata Daffa dari DPP Federasi Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia yang ikut mendampingi.
Pertanyaan yang sering muncul,kenapa harus tidur di tenda?
Daffa menjawab lugas. Tenda itu pagar. Tujuannya satu, memastikan posisi kerja mereka tidak diambil alih orang lain selama mogok berlangsung.
“Siapa sih yang mau tidur di alam terbuka berhadapan langsung matahari, angin malam, fasilitas sulit di atas aspal? Gak ada yang mau,” ucapnya.
Tapi mereka tetap di sana. Karena pulang tanpa kepastian rasanya lebih berat daripada bertahan.
Tim mendatangi alamat perusahaan tempat para buruh biasa bekerja. Yang ada hanya satpam. Tidak ada perwakilan perusahaan yang berkantor di situ.
Alamat kantor di situs web juga didatangi. Karyawannya sudah pindah. Nomor WhatsApp di Instagram perusahaan dihubungi. Hingga berita ini ditulis, belum ada jawaban.
Kebuntuan dialog inilah yang membuat 12 orang ini memilih bertahan lebih lama di tenda. Bukan untuk membuat gaduh, tapi untuk didengar.
Di Kampung Bandan malam ini, tenda itu masih berdiri. Di dalamnya ada 12 orang yang menukar kenyamanan rumah dengan satu hal: kepastian kerja.
Apakah PT SMT dan perusahaan alih daya MAS akan duduk bicara? Para buruh masih menunggu di tempat yang sama seperti sebulan terakhir, di atas aspal, di bawah tenda.
