TIMIKA, tabloidnusantara . Suasana Jalan Cenderawasih, Timika, Sabtu pagi (15/8) terasa berbeda. Sekitar pukul 09.30 WIT, ratusan warga yang tergabung dalam Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Kabupaten Mimika mulai berjalan kaki dari Bundaran Eme Neme.
Mereka bergerak santai namun tertib, menyusuri jalan utama kota sambil membawa bendera merah bintang dan mengenakan aksesori dengan simbol Bintang Kejora. Langkah mereka berhenti sejenak di Bundaran Petrosia. Di titik itu, satu per satu orator naik dan menyampaikan pandangan mereka ke publik.
Inti pesan yang disuarakan cukup tegas: para demonstran menilai Papua saat ini berada dalam kondisi “darurat militer dan kemanusiaan”. Orasi berlangsung bergantian, tanpa teriakan provokatif.
“Ini bentuk kami menyampaikan aspirasi secara terbuka,” ucap salah satu peserta di sela aksi.
Meski jumlahnya mencapai ratusan orang, jalannya aksi terbilang kondusif. Sejak awal hingga akhir, aparat gabungan TNI-Polri tampak berjaga di sepanjang rute. Mereka mengatur arus lalu lintas dan memastikan kegiatan warga lain di sekitar Timika tetap berjalan seperti biasa.
Usai menyampaikan orasi di Bundaran Petrosia, massa kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan akhir mereka: Kantor DPRK Mimika. Di sana, rombongan berencana menyampaikan langsung poin-poin tuntutan kepada wakil rakyat.
Hingga berita ini ditulis, massa KNPB sudah tiba di kawasan Kantor DPRK Mimika. Aparat masih bersiaga, namun situasi terpantau aman dan tertib.
Aksi hari ini menjadi salah satu cara warga Mimika menyuarakan pandangan mereka ke ruang publik — dengan berjalan kaki, berorasi, dan menutupnya di depan lembaga legislatif daerah.
