Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
KRIMINAL

POLDA METRO RILIS DUA SKETSA WAJAH TERDUGA PELAKU PENGEROYOKAN Yang TEWASKAN PEDAGANG CERMIN DI PEJOMPONGAN

JAKARTA, tabloidnusantara. Di tengah pusaran kericuhan 27 Agustus 2026, seorang pedagang cermin bernama Bambang Setiyawan harus kehilangan nyawa setelah keluar dari lapaknya di Pejompongan, Jakarta Pusat. Kini, penyidik Ditreskrimum Polda Metro Jaya mulai membuka tabir pelaku dengan merilis dua sketsa wajah yang diduga kuat terlibat dalam pengeroyokan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Iman Imanuddin menyebut sketsa itu lahir dari pencocokan keterangan saksi dengan hasil analisis digital terhadap rekaman CCTV dan video yang beredar di media sosial. “Didapatkan sketsa wajah yang mengarah kepada terduga pelaku pengeroyokan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang tersebut,” ujar Iman saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Rabu.

Sketsa pertama menggambarkan seorang pria berusia kisaran 30 hingga 40 tahun. Wajahnya oval dengan alis tipis, bibir tebal, hidung pendek, bola mata hitam, dan kulit cokelat. Sketsa kedua juga memperlihatkan pria di rentang usia yang sama, namun dengan karakter berbeda.

Wajahnya berbentuk kotak, hidung pesek, bibir bawah tebal, serta memiliki kumis dan janggut. Bola matanya hitam dan warna kulitnya cokelat.

Dua gambaran itu kini menjadi buruan. Polisi berharap publik yang mengenali ciri-ciri tersebut segera melapor, karena proses penyidikan tengah dikebut untuk mencari siapa yang memukul hingga Bambang tak lagi pulang.

Korban bukanlah peserta aksi. Bambang, 59 tahun, sehari-hari berjualan cermin bersama istrinya Sudarsi, 56 tahun, di kawasan Pejompongan. Sore itu, Kamis 27 Agustus, mereka masih menggelar dagangan hingga sekitar pukul 16.30 WIB. Padahal biasanya lapak ditutup pukul 18.00 WIB. Namun suasana yang mulai memanas membuat Sudarsi meminta suaminya pulang lebih cepat. “Sebenarnya kami belum tutup. Tutupnya itu jam 18.00, tetapi karena saya lihat massa sudah banyak, akhirnya saya bilang sama bapaknya, ‘Itu massa sudah banyak, tutup’,” kenang Sudarsi saat ditemui wartawan.

Keputusan itu terlambat menyelamatkan. Bambang kemudian ditemukan dalam kondisi kritis dan akhirnya meninggal dunia. Jenazahnya kini berada di RS Polri.

Kasus ini bukan berdiri sendiri. Polda Metro Jaya telah menetapkan 47 orang sebagai tersangka terkait rangkaian kerusuhan pada 27 Agustus 2026. Peristiwa itu tidak hanya terjadi di Pejompongan, tetapi juga di depan Gedung DPR-MPR RI. Para tersangka dijerat atas dugaan perusakan fasilitas umum hingga penganiayaan.

Untuk mengurai benang kusut, penyidik sudah memeriksa 14 orang saksi. Selain itu laboratorium forensik digital juga dilibatkan untuk menguji keaslian video dari titik-titik CCTV dan konten media sosial yang diduga merekam detik-detik pengeroyokan.

Iman menegaskan, seluruh alat bukti sedang dirangkai untuk memastikan tidak ada pelaku yang lolos. “Kami tidak akan berhenti sampai pelaku utama dan semua yang terlibat mempertanggungjawabkan perbuatannya,” katanya.

Kematian Bambang menjadi pengingat pahit bahwa di tengah penyampaian aspirasi, warga sipil yang hanya mencari nafkah bisa menjadi korban. Dan kini, dua wajah dalam sketsa itu adalah kunci berikutnya yang dikejar penyidik.