Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
LINGKUNGAN

MITOS LAHAN MATI Di PALI TERPATAHKAN, DESA PENGABUAN YANG DULU TERCEMAR KINI JADI LUMBUNG PANGAN

PALEMBANG, tabloidnusantara. Di tengah deru mesin pengeboran minyak di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan, sebuah kisah pembalikan nasib terjadi. Desa Pengabuan yang selama puluhan tahun dicap sebagai lahan mati dan tercemar limbah, kini bertransformasi menjadi lumbung pangan mandiri yang produktif.

Keberhasilan itu lahir dari sinergi antara ketekunan petani, kearifan lokal, dan dukungan PT Pertamina EP Adera Field melalui program Pertanian Mandiri Desa Tangguh.

Sejarah kelam itu bermula sejak 1980-an. Warga meyakini belasan hektare hamparan sawah di desa mereka sudah tidak bisa ditanami padi akibat tercemar aktivitas operasional Pertamina EP Adera. Mitos itu membuat lahan dibiarkan terbengkalai puluhan tahun.

Titik balik muncul pada 2014. Bermodal nekat tanpa teori pertanian, sejumlah warga mencoba kembali menanam padi di lahan yang dianggap mati tersebut.

Alam kemudian memberi petunjuk dengan cara tak terduga. Banjir melanda dan menghanyutkan tanaman padi mereka hingga ke tepi jalan raya. Justru di pinggir jalan itulah padi yang hanyut tumbuh subur dengan bulir berisi.

Fenomena itu menarik perhatian Pertamina. Setahun kemudian, perusahaan menerjunkan ahli teknologi pertanian untuk mendampingi petani dan mengkaji tanah secara ilmiah. Hasilnya mematahkan mitos yang terlanjur mengakar.

Kendala utama bukan pencemaran limbah industri, melainkan karakteristik tanah tadah hujan yang sepenuhnya bergantung pada curah hujan tanpa sistem irigasi teknis yang memadai.

Dari kajian itulah panen raya pertama berhasil diwujudkan. Sosok di baliknya adalah Sarbeni dari Kelompok Tani Barokah, petani pertama yang berani melakukan uji coba produksi pangan di lahan tersebut.

“Saat pertama kali memulai mencoba menanam, kami hanya berharap apa ditanam dapat tumbuh dan berbuah,” kata Sarbeni di area persawahan Desa Pengabuan.

Ia mengakui pendampingan Pertamina memberi bekal ilmu krusial untuk mengatasi serangan hama tikus, burung, belalang hingga tata kelola air tadah hujan.

“Ikhtiar tersebut mendapatkan anugerah dari Tuhan, sehingga secercah harapan tumbuh lewat bantuan Pertamina.”

Kepala Desa Pengabuan, Supriyanto, yang ditemui di lokasi yang sama menyampaikan terima kasih kepada Pertamina Adera EP yang telah menghidupkan kembali asa membangun Indonesia dari desa.

Manager Community Involvement and Development (CID) Pertamina Hulu Rokan Regional I, Iwan Ridwan Faizal, menegaskan program ini adalah komitmen berkelanjutan perusahaan untuk memastikan kehadiran industri hulu migas memberikan dampak berlipat bagi warga sekitar.

“Program ini dirancang untuk memastikan bahwa kehadiran industri energi memberikan multiplier effect yang nyata.

Melalui program pendampingan, kami mendorong kemandirian desa melalui penguatan pertanian padi dan hortikultura, pemberdayaan kelompok masyarakat, serta pemanfaatan hasil samping pertanian menjadi produk bernilai tambah,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Pemerintah Kabupaten PALI. Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten PALI, Ujang Sayib, menilai langkah Pertamina EP Adera telah memberdayakan kelompok tani secara nyata dan pemerintah daerah akan terus meningkatkan kerja sama untuk pemberdayaan masyarakat desa.