PANIAI BARAT, tabloidnusantara . TPNPB-OPM Klaim keberanian di media, namun justru berseberangan dengan fakta di lapangan. Patroli gabungan TNI-Polri di Danau Paniai, wilayah Totio, 12 Agustus 2026, memaksa kelompok bersenjata TPNPB-OPM Kodap Paniai mundur dan memilih bertahan di area dekat pemukiman warga.
Terjadi kontak Senjata Singkat antara OPM dengan Aparat gabungan, namun kelompok mundur kabur ke Permukiman.
Berdasarian laman resmi WPA News, kontak tembak sempat terjadi saat aparat masuk menggunakan speedboat ke kawasan yang selama ini diklaim sebagai markas TPNPB-OPM Paniai. Setelah itu aparat disebut mundur.
TPNPB-OPM kemudian menyatakan “mengikuti” hingga batas wilayah pertahanan mereka dan berhenti. Tidak ada upaya mempertahankan posisi di medan terbuka danau. Sebagian personel dilaporkan berpencar, sebagian lain bertahan di titik yang berbatasan langsung dengan rumah warga.
Alih-alih keluar ke ruang kosong untuk pertempuran terbuka seperti yang mereka tantang di video-video sebelumnya, kelompok ini justru memilih tetap di zona yang berdekatan dengan aktivitas sipil.
Dalih “Lindungi Sipil” Berbalik Menjadi Tuduhan
Dalam pernyataan resmi TPNPB-OPM Paniai, mereka mengajukan tiga poin:
1. Meminta TNI-Polri “tidak menjadikan wilayah masyarakat sipil sebagai medan pertempuran” dan “segera mengambil lapangan perang terbuka”.
2. Menuding patroli TNI “mengganggu” dan berpotensi meningkatkan ketegangan serta merugikan masyarakat.
3. Mengklaim selama ini “tidak mengganggu” distribusi kebutuhan warga.
Bagi pengamat keamanan, pola ini bukan baru.
“Ini taktik klasik kelompok bersenjata di wilayah konflik asimetris. Klaim melindungi warga dipakai setelah posisi mereka terdesak, padahal penempatan markas di dekat pemukiman sudah lebih dulu terjadi,” ujar seorang analis pertahanan yang tidak ingin disebut namanya.
Logika di lapangan bertabrakan dengan narasi. Jika benar menolak pertempuran di area sipil, maka posisi bertahan seharusnya dipindah jauh dari rumah warga. Kenyataannya, mereka bertahan di sana saat aparat datang.
Klaim 7.010 Tembakan tapi Tanpa Bukti
Panglima Tertinggi West Papua Army, Damianus Magai Yogi, mengklaim TNI menembakkan 7.010 butir peluru dan pihaknya “siaga penuh”. Ia juga menegaskan tidak ada korban di pihak TPNPB-OPM.
Hingga berita ini ditulis belum ada verifikasi independen terkait jumlah tembakan maupun kondisi korban dari kedua belah pihak. TNI-Polri juga belum merilis data resmi operasi di Totio.
Sumber keamanan menyatakan operasi di Paniai Barat ditujukan untuk memutus rantai pergerakan kelompok bersenjata yang selama ini beroperasi di jalur Danau Paniai. “Fokusnya menyapu area yang dipakai untuk persembunyian dan mobilisasi. Bukan menarget nelayan atau warga sipil,” tegas sumber tersebut.
Warga di sekitar Danau Paniai memang paling dirugikan dalam pola konflik seperti ini. Ketika satu pihak bertahan di dekat pemukiman, maka risiko terkena dampak meningkat, terlepas siapa yang memulai tembakan.
Totio dan sekitar Danau Paniai sudah lama disebut sebagai jalur logistik dan titik kumpul TPNPB-OPM Kodap Paniai. Klaim “markas” ini yang membuat wilayah tersebut berulang kali menjadi titik operasi aparat.
Pemerintah pusat menegaskan Papua adalah bagian dari NKRI dan keamanan warga sipil menjadi prioritas utama operasi.
