KETAPANG, tabloidnusantara. Pemerintah Kabupaten Ketapang menaikkan status penanganan bencana dari siaga menjadi tanggap darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai Rabu (2/9).
Keputusan itu diambil lantaran kondisi karhutla di Ketapang kian memburuk. Kebakaran telah melanda 15 kecamatan dari 20 kecamatan di Ketapang. Selain itu dampak karhutla juga membuat kualitas udara memburuk, kasus ISPA meningkat, dan sejumlah wilayah mengalami krisis air bersih.
Penetapan status tanggap darurat diputuskan dalam rapat yang digelar di Ruang Rapat Utama Bupati Ketapang. Rapat diikuti unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta camat dan kepala desa se-Ketapang secara daring.
Bupati Ketapang Alexander Wilyo mengatakan bahwa perubahan status harus diikuti dengan perubahan pola penanganan di lapangan.
Ia meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD), camat dan kepala desa memusatkan sumber daya untuk menangani karhutla di wilayah masing-masing.
“Ini menjadi dasar kita untuk mengambil kebijakan yang lebih jauh, termasuk mengerahkan sumber daya yang ada untuk penanggulangan karhutla,” katanya
Alex menyampaikan bahwa dukungan personel untuk penanganan karhutla saat ini relatif mencukupi. Bantuan personel juga datang dari luar Kalimantan, termasuk dari satuan Brimob dan TNI.
Namun, persoalan utama berada pada peralatan dan sumber air. Karena itu, Pemkab Ketapang meminta pemerintah pusat meningkatkan intensitas operasi water bombing, terutama untuk menjangkau titik kebakaran di wilayah pedalaman dan lahan mineral.
“Kita minta tambahan intensitas water bombing di Ketapang ditingkatkan. Ini sangat efektif di daerah pedalaman atau di tanah mineral,” ujarnya.
Permintaan tambahan helikopter water bombing telah disampaikan kepada pemerintah pusat. Selain itu, dukungan juga diharapkan datang dari Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) di bawah Kodam XII/Tanjungpura.
Bupati menuturkan bahwa saat ini sudah ada dua helikopter bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah berada di Bandara Rahadi Oesman Ketapang. Satu digunakan untuk water bombing dan satu lainnya untuk survei.
“Semakin banyak helikopter water bombing makin bagus di tengah karhutla yang semakin meluas dan memburuk,” tuturnya.
