Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BENCANA ALAM

GUNUNG ILI LEWOTOLOK MELETUS, WARGA LEMBATA DIMINTA TETAP WASPADA

NTT, tabloidnusantara. Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, kembali menggeliat. Dalam kurun dua hari terakhir aktivitasnya naik tajam dan memuntahkan abu beberapa kali, membuat udara di sekitar lereng berubah kelabu dan sirene kewaspadaan kembali berbunyi.

Letusan terkuat tercatat Minggu pagi, 6 September 2026 pukul 06.41 WITA. Petugas Pos Pemantauan Gunung Api Ili Lewotolok, Khairul Imam Tarmizi, menyebut kolom abu kelabu pekat saat itu membumbung hingga 600 meter di atas puncak. Jika dihitung dari permukaan laut ketinggiannya mencapai 2.023 meter.

Tiupan angin membawa gumpalan itu condong ke arah tenggara. Getarannya terekam kuat di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan berlangsung selama 82 detik.

Bukan hanya sekali. Beberapa menit sebelumnya pada pukul 06.11 WITA gunung yang sama juga meletus. Kali ini kolom abunya mencapai 400 meter, berwarna kelabu tebal dan bergerak ke arah barat selama 40 detik. Sehari sebelumnya, Sabtu 5 September, Ili Lewotolok dua kali memuntahkan material.

Erupsi pertama terjadi pukul 06.51 WITA dengan tinggi lontaran 500 meter, disusul letusan lagi pada pukul 07.02 WITA. Pola berulang dengan intensitas berbeda ini menunjukkan dapur magma masih aktif dan belum stabil.

Melihat rangkaian kejadian tersebut, Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi segera memperketat rekomendasi. Masyarakat dan wisatawan dilarang memasuki kawasan dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Untuk sektor selatan dan tenggara jarak aman diperluas hingga 3 kilometer karena potensi lontaran material lebih besar ke arah itu.

Ancaman tidak berhenti pada hujan abu. PVMBG mengingatkan adanya risiko lanjutan berupa guguran lava, longsoran material vulkanik, hingga awan panas yang bisa meluncur ke sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut. Warga yang bermukim di lereng dan lembah aliran sungai diimbau untuk tidak beraktivitas di daerah rawan tersebut.

Untuk mengurangi dampak, masyarakat diminta menggunakan masker dan pelindung mata setiap keluar rumah. Langkah ini penting untuk menghindari gangguan pernapasan dan iritasi akibat partikel abu yang halus dan tajam. Penampungan air bersih juga perlu ditutup rapat agar tidak terkontaminasi debu vulkanik.

Pemerintah daerah bersama warga diminta menjaga komunikasi intensif dengan Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok yang berada di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape. Pemantauan visual dan instrumental terus dilakukan 24 jam untuk menangkap setiap perubahan aktivitas.

Ili Lewotolok memang kerap aktif, namun serangkaian erupsi dalam 48 jam ini menjadi pengingat bahwa gunung di ujung timur Flores itu masih menjadi salah satu yang paling dinamis di Indonesia. Kewaspadaan warga dan kepatuhan terhadap zona aman menjadi kunci agar letusan tidak memakan korban.