Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
PERTANIAN

DISTANBUN ACEH KEBUT PEMULIHAN 40 RIBU HEKTAR SAWAH RUSAK, TARGET SELESAI AKHIR 2026

BANDA ACEH, tabloidnusantara. Pascabencana hidrometeorologi yang merendam dan merusak lahan pertanian, Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh tancap gas. Targetnya jelas: seluruh sawah rusak ringan dan sedang seluas lebih dari 40 ribu hektare harus pulih dan bisa ditanami lagi hingga akhir 2026.

‎Plt Kepala Distanbun Aceh Azanuddin Kurnia optimis. Sebab pekerjaan sudah berjalan di 16 kabupaten kota terdampak dan sebagian lahan ditargetkan sudah bisa dipakai petani saat musim tanam Oktober mendatang.

‎Pemulihan sawah di Aceh dibagi dalam dua tahap besar. Tahap pertama fokus pada optimalisasi lahan untuk sawah rusak ringan dan rehabilitasi untuk sawah rusak sedang. Tahap kedua menyusul dengan cakupan yang tak kalah luas.

‎Azanuddin menyebut program ini bukan sekadar memperbaiki tanah. Ini menyangkut nasib petani yang mata pencahariannya sempat terhenti karena banjir dan kerusakan infrastruktur.

‎Saat ini progres fisik sudah menyentuh lebih dari 10 ribu hektare. Rinciannya mencakup optimalisasi lahan, rehabilitasi, hingga pengolahan lahan di berbagai titik. Dokumen rancangan teknis untuk tahap kedua juga tengah disusun agar pekerjaan bisa segera dilanjutkan tanpa jeda.

‎Selain tanahnya, infrastruktur pendukung juga dikebut. Irigasi perpompaan, jaringan perpipaan, bangunan konservasi, jaringan irigasi tersier, dan jalan usaha tani menjadi prioritas. Beberapa di antaranya bahkan sudah mendekati rampung.

‎Dari sisi anggaran, Distanbun mencatat serapan sudah mencapai lebih dari setengah dari total alokasi. Angka itu menunjukkan program ini sudah melewati titik tengah dan tinggal dikebut di sisa waktu.

‎Azanuddin meminta dinas pertanian kabupaten dan kota di daerah terdampak tidak kendor. Pendampingan ke kelompok tani harus terus dilakukan agar bantuan tepat sasaran. Ia juga mengapresiasi keterlibatan TNI di lapangan yang membantu mempercepat pengerjaan.

‎”Koordinasi harus terus diperkuat, sehingga setiap kendala yang muncul dapat segera dicarikan jalan keluarnya,” tegas Azanuddin.

‎Ia berharap dengan kerja keras dan kolaborasi semua pihak, sawah yang dipulihkan benar-benar bisa dimanfaatkan petani pada musim tanam Oktober 2026. Jika itu tercapai, maka ketahanan pangan Aceh akan kembali pulih setelah dihantam bencana.

‎Bagi petani, kepastian lahan adalah kepastian hidup. Dengan pemulihan yang kini sudah berjalan setengah jalan, harapan untuk kembali menanam dan panen di akhir tahun semakin nyata. Distanbun Aceh menegaskan tidak akan berhenti sampai seluruh lahan terdampak benar-benar produktif kembali.