DENPASAR, tabloidnusantara. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali masih memburu seorang warga negara asing (WNA) yang diduga menjadi otak penyelundupan 4,59 kilogram kokain melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali.
“Diduga kuat para pelaku ini merupakan jaringan narkoba internasional. Kami masih memburu seorang WNA yang diduga sebagai pengendalinya,” ungkap Pelaksana Tugas Kepala BNNP Bali Kombes Pol Stevy Frits Pattiasina di Denpasar, Jumat (17/10/2026).
Kasus ini terungkap berkat kejelian petugas Bea Cukai Bandara Ngurah Rai yang curiga dengan hasil citra X-Ray barang bawaan penumpang pada Sabtu (3/10) pukul 16.00 WITA. Petugas kemudian membongkar dua tas ransel milik wisatawan asal Chile berinisial J dan B yang tiba dengan penerbangan Jetstar JQ43 dari Melbourne, Australia.
Keduanya diketahui terbang jauh dari Santiago, Chile, menggunakan LATAM Airlines LA805. Dari pemeriksaan, ditemukan empat kemasan plastik hitam berisi serbuk putih yang diduga kokain, disembunyikan secara rapi di dinding belakang tas dengan modus kompartemen palsu atau false compartment.
Total barang bukti mencapai 4.594,5 gram bruto. Tas milik J berisi 2.284,5 gram, sementara tas milik B berisi 2.310 gram. Modus liburan ternyata menjadi kedok untuk menyelundupkan barang haram tersebut.
“Total barang bukti yang disita sekitar 4,59 kilogram bruto. Kedua WNA tersebut datang ke Bali untuk berlibur,” ucap Stevy.
Pengungkapan tidak berhenti di bandara. Tim gabungan membuntuti pergerakan kedua wisatawan tersebut. Sempat diperiksa dua sopir travel yang menjemput mereka atas permintaan hotel, namun keduanya tidak terlibat dan berstatus saksi.
Tak lama, muncullah komunikasi dari seorang warga negara Indonesia berinisial HU yang meminta barang diserahkan di halaman hotel tempat J dan B menginap. Petugas bergerak cepat dan menangkap HU tanpa perlawanan. Dari pengakuannya, HU hanya bertugas menerima barang atas perintah WNA yang kini diburu itu.
BNNP mencatat, penggagalan penyelundupan ini berpotensi menyelamatkan 22.973 jiwa dari bahaya narkoba dan menghemat keuangan negara hingga Rp36,7 miliar.
Stevy menegaskan, sebagai destinasi wisata internasional, Bali masih menjadi sasaran empuk jaringan narkotika lintas negara dengan modus yang terus berubah. “Kami bersama instansi terkait akan terus bersinergi menjaga Bali dari peredaran gelap narkotika untuk mewujudkan Bali yang aman, maju, dan bersinar atau bersih narkoba,” ujarnya.
