MEDAN, tabloidnusantara. Hampir sebulan sudah Febiona Purba bolak-balik rumah sakit. Siswi 16 tahun asal Kabupaten Karo ini menjadi salah satu korban keracunan program Makan Bergizi Gratis yang mengguncang Sumatera Utara.
Tubuhnya yang dulu lincah kini lebih sering duduk di kursi roda. Namun di tengah perawatan panjang itu, ada satu hal yang belum padam: ingatannya tentang masa depan.
Selasa pagi, tim Kantor Perwakilan Pengawas Gizi Medan bersama Febiona dan keluarganya duduk di ruang tunggu RSUP Adam Malik. Mereka baru saja menemui dokter spesialis neurologi anak, Yazid Dimyadi, untuk mendengar hasil pemeriksaan semalam.
“Dokter Yazid tadi menyampaikan, tidak dikasih terapi apa-apa karena normal. Tidak dikasih obat juga. Jadi obat yang diterima Febiona dari Psikiatri semalam aja,” kata Erdianta Sitepu, Kepala Sub Bagian Tata Usaha KPPG Medan, saat dihubungi.
Hasil itu sedikit melegakan. Setelah dari ruang dokter, mereka makan bersama di luar rumah sakit. Di meja makan itulah Erdianta memperhatikan Febiona baik-baik. Tidak ada jeda aneh dalam obrolan. Tidak ada tatapan kosong.
“Kami tadi diskusi nyambung kok. Trus dia tadi bisa juga perkenalkan diri dengan bahasa Jepang. Dia ingat juga cita-citanya mau kuliah di National University Of Singapore. Tahu kok dia sudah juara satu dua kali. Dia ingat semua kok,” ujarnya.
Cerita itu kontras dengan kondisi yang diceritakan ibunya, Elvinus Lusiana Sitanggang, tiga minggu lalu. Saat itu Febiona baru tiba di Adam Malik dari RS Berastagi, didampingi petugas BGN Karo dan Medan.
Dari IGD ia langsung masuk Poli Psikiatri lalu Neurologi. Pulang ke rumah di Karo, ibunya melihat perubahan yang paling menyakitkan bukan di hasil lab, melainkan di keseharian.
“Lidahnya agak masuk ke dalam. Sampai ngomong pun dia agak sulit,” kata Elvinus di depan RSUP Adam Malik.
Yang membuat keluarga cemas adalah ketika Febiona seperti kehilangan jejak orang-orang terdekat. Bibinya datang, ia bertanya siapa. Adik-adiknya disapa, ia tidak merespons seperti dulu. Teman-teman sekolah yang menjenguk pun hanya dipandangi tanpa pengenalan.
KPPG Medan memastikan pendampingan untuk Febiona belum berhenti. Bukan hanya karena kasusnya mendapat sorotan, tetapi karena ia adalah satu dari 391 siswa korban keracunan MBG di Karo yang seluruh biaya pengobatannya ditanggung Badan Gizi Nasional.
Perjalanan Febiona mencerminkan dua sisi dari tragedi ini. Di satu sisi ada data medis yang menyebut kondisinya stabil dan tidak memerlukan terapi lanjutan. Di sisi lain ada tubuh seorang remaja yang masih berjuang menggerakkan lidahnya dan ingatan yang sempat tercerai-berai oleh sakit.
Kini Febiona sudah kembali di rumah di Karo. Ia masih mengingat bahasa Jepang yang pernah dipelajarinya, masih menyebut NUS sebagai tujuan kuliah, masih mengingat piala juara yang pernah ia raih. Pertanyaannya, berapa lama lagi ia harus menunggu sampai tubuhnya bisa mengejar semua yang sudah diingat kepalanya.
