JAKARTA, tabloidnusantara. Gempa yang mengguncang Pulau Flores meninggalkan luka pada rumah-rumah ibadah. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo datang langsung ke Manggarai, Nusa Tenggara Timur, untuk memastikan luka itu tidak ditambal asal-asalan.
Sabtu ini ia meninjau dua bangunan yang porak-poranda: Gereja Santo Petrus dan Paulus Dampek yang sudah berdiri sejak 1979, dan Masjid Nurul Huda Reo. Keduanya, kata Dody, mengalami kerusakan berat hingga harus dibongkar seluruhnya. Namun pembongkaran bukan berarti menghapus jejak.
“Kalau bangunan kita kerjakan ulang, di manapun kearifan lokal harus dijaga. Jadi harus koordinasi dengan yang menggunakan atau mengelola bangunan tersebut,” tegas Dody di Jakarta setelah peninjauan.
Pesan itu ia ulang di depan pastor, pengurus paroki, dan Keuskupan Ruteng untuk gereja. Hal yang sama ia sampaikan kepada takmir Masjid Nurul Huda. Menurutnya, bentuk atap, material, hingga ruang yang selama ini dipakai umat tidak boleh hilang hanya karena alasan teknis. Standar keselamatan justru harus naik, bukan diturunkan.
Penanganan akan ditentukan dari hasil asesmen yang sudah dilakukan tim Kementerian PU. Melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Jenderal Prasarana Strategis, setiap retakan dan struktur bangunan didata satu per satu. Bangunan yang masih bisa diselamatkan akan direhabilitasi. Yang rusak berat akan dibangun kembali dengan konstruksi yang lebih kuat dan sesuai karakter wilayah rawan gempa.
“Bangunannya harus kita perkuat karena bagaimanapun ini adalah daerah gempa. Jadi bangunannya harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi alamnya,” ujar Dody.
Pendekatan ini disebutnya sebagai build back better. Artinya membangun kembali bukan sekadar mengembalikan seperti semula, melainkan membuat yang lebih aman, lebih tangguh, dan tetap berpijak pada cara hidup masyarakat setempat.
Agar pemulihan tidak mematikan roda ekonomi warga, Dody menginstruksikan pelibatan langsung masyarakat dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Tukang, buruh, hingga pemasok material lokal diharapkan masuk dalam rantai kerja. Dengan begitu aktivitas warga tetap berjalan meski lokasi terdampak masih dalam tahap perbaikan.
“Wajib melibatkan masyarakat setempat, sehingga masyarakat setempat tidak kehilangan pencaharian. Mereka bisa kembali mendapatkan pencahariannya dengan ikut terlibat dalam semua proses rehab-rekon di area yang paling terdampak,” katanya.
Di tengah urgensi membangun cepat, Dody menekankan satu garis merah, kecepatan tidak boleh menabrak identitas. Gereja di Dampek tetap harus terasa seperti gereja milik umat Dampek. Masjid di Reo tetap harus menjawab kebutuhan jamaah Reo. Negara hadir untuk memperkuat, bukan menyeragamkan.
Peninjauan ini menjadi sinyal bahwa pemulihan pascabencana di NTT akan diukur bukan hanya dari berapa banyak bangunan yang berdiri, tetapi dari seberapa tepat bangunan itu diterima dan dipakai oleh orang-orang yang menjaganya selama puluhan tahun.
