Rabu, 7 Oktober 2026
TABLOID NUSANTARA
BUDAYA

FESTIVAL SENI BUDAYA MIMIKA BUKA PELUANG EKONOMI BAGI SENIMAN KAMORO

Bagikan berita:

TIMIKA, tabloidnusantara. Festival Seni Budaya Mimika tidak hanya menjadi ruang pertunjukan dan pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para pelaku seni dan ekonomi kreatif di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua Tengah, Thomas Mutaweyau, menilai kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Mimika pada 5–10 Oktober 2026 tersebut memberikan ruang bagi seniman lokal untuk memperkenalkan sekaligus menjual hasil karya mereka.

Menurut Thomas, festival semacam itu dapat memberikan nilai ekonomi langsung bagi para pengukir, penganyam, penari, hingga penabuh tifa yang selama ini menggantungkan penghasilan dari keterampilan seni dan budaya.

“Dengan festival ini para pengukir, penganyam, penari, penabuh tifa itu ada uang atau nilai ekonomi (income) yang mereka dapat, baik untuk grup, sanggar seninya, ataupun untuk keluarga. Intinya mereka bisa hidup dari seni yang ditekuni,” ujar Thomas di Timika, Senin.

Ia mendukung keberlanjutan festival tersebut sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam memberikan ruang promosi dan pemasaran bagi pelaku seni. Namun, Thomas menilai cakupan kegiatan masih perlu diperluas agar manfaatnya tidak hanya dirasakan seniman yang berada di kawasan perkotaan.

Thomas berharap festival berikutnya dapat menjangkau lebih banyak kampung, termasuk wilayah pesisir dan pegunungan Mimika, dengan dukungan anggaran yang memadai dari pemerintah daerah.

“Saya melihat yang ada di sini masih sedikit karena hanya ada di Kota Timika dan sekitarnya, tetapi belum sampai ke kampung pesisir dan pegunungan yang ada di Mimika. Kami berharap kalau diadakan lebih besar lagi dan tentunya harus didukung dengan anggaran yang besar dari Pemkab Mimika,” katanya.

Dampak ekonomi dari festival tersebut turut dirasakan pelaku seni dari wilayah pesisir. Paulinus Yauniyuta dari Sanggar Seni Pokai, Kampung Amamapare, Distrik Mimika Timur, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi sanggarnya untuk memasarkan berbagai hasil kerajinan, termasuk seni ukir dan rajutan.

“Kami senang dengan kegiatan ini, karena kami dapat menjual hasil karya kami di sini,” ujar Paulinus.

Hal serupa disampaikan Sabinus Kupakareyau dari Sanggar Titiri, Kampung Pomako, Distrik Mimika Timur. Ia berharap festival seni dan budaya dapat menjadi agenda rutin sehingga para seniman memiliki ruang pemasaran yang berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahun dan berkelanjutan agar kami tetap memasarkan hasil karya kami,” katanya.

Dalam festival tersebut, para pelaku seni memasarkan sejumlah karya khas Suku Kamoro, mulai dari patung, ukiran, hingga miniatur rumah adat Karapau.

Harga karya seni yang ditawarkan bervariasi, mulai dari sekitar Rp100 ribu hingga Rp25 juta per karya. Salah satu karya dengan nilai jual tertinggi adalah replika rumah adat Karapau yang dipasarkan dengan harga mencapai Rp25 juta per unit.

Bagi para pelaku seni, festival tersebut menjadi lebih dari sekadar panggung budaya. Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan karya tradisional dengan pasar sekaligus membuka peluang agar keterampilan seni yang diwariskan secara turun-temurun dapat terus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Thomas berharap pola serupa terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak sanggar dari berbagai wilayah Mimika sehingga pelestarian budaya berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan pelaku seni.