MANADO, tabloidnusantara – Pangkalan TNI AL Gorontalo menggagalkan penyelundupan sianida dari Filipina di Pelabuhan Kwandang, Gorontalo Utara. Operasi dilakukan bersama Bea Cukai Gorontalo setelah menerima informasi intelijen terkait pengiriman bahan berbahaya tersebut.
Kepala Dinas Penerangan Kodaeral VIII Letkol Laut Andreas Suko Riyanto mengatakan informasi awal menyebutkan adanya upaya pengiriman CN atau sianida dari Filipina menuju Indonesia melalui perairan Sulawesi.
”Berdasarkan informasi intelijen, diperoleh informasi adanya upaya pengiriman CN atau Sianida dari Filipina menuju Indonesia tepatnya melalui wilayah perairan Sulawesi,” ujar Andreas di Manado, Senin.
Menindaklanjuti informasi itu, personel Pos TNI AL Kwandang langsung melakukan pengamatan dan pemantauan di sekitar perairan Pulau Bugisa dan Pulau Lampu, Gorontalo Utara. Pada titik koordinat 00°57′06,8″ LU – 122°52′28,4″ BT, petugas mencurigai satu unit long boat yang melintas dengan muatan mencurigakan.
Long boat tersebut kemudian diamankan dan digiring menuju Pelabuhan Kwandang untuk pemeriksaan. Hasil pemeriksaan membuktikan kapal membawa sianida dalam jumlah besar.
Ditemukan muatan berupa 60 karung sianida dengan berat masing-masing sekitar 50 kilogram sehingga total mencapai sekitar 3.000 kilogram atau 3 ton.
Barang berbahaya tersebut diduga akan diedarkan secara ilegal dan berpotensi menimbulkan kerugian negara dari sisi pajak.
”Potensi kerugian negara atas pajak yang harus dibayarkan sejumlah Rp249.135.000,” ujar Kadispen.
Barang bukti sianida kemudian dibongkar dan dibawa ke Posal Kwandang.
Pada pukul 06.30 Wita, 60 karung sianida beserta enam anak buah kapal pengangkut diangkut menggunakan truk TNI AL menuju Lanal Gorontalo untuk proses penyidikan lebih lanjut.
Penangkapan ini menambah daftar penggagalan penyelundupan sianida asal Filipina di Gorontalo setelah sebelumnya Polda Gorontalo juga menggagalkan 1,9 ton sianida.
Penggagalan 3 ton sianida di Kwandang menegaskan perairan utara Gorontalo masih menjadi jalur rawan penyelundupan bahan kimia berbahaya lintas negara.
TNI AL memastikan pemeriksaan intensif terhadap jaringan penyelundupan akan terus dikembangkan.
