Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

BASARNAS RESMI HENTIKAN OPERASI PENCARIAN JURNALIS DAN KRU KAPAL YANG HILANG

PANDEGLANG, tabloidnusantara. Sepuluh hari di Selat Sunda tanpa jejak. Operasi pencarian dan pertolongan terhadap KM Arupadatu I yang membawa rombongan jurnalis dan kru resmi dihentikan.

Keputusan itu diumumkan Gubernur Banten Andra Soni di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Kabupaten Pandeglang, Kamis petang, 17 September 2026

“Sudah tidak efektif maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini dinyatakan dihentikan,” kata Andra.

Penghentian diambil setelah evaluasi menyeluruh. Sesuai SOP Basarnas, operasi berlangsung 7 hari dan diperpanjang 3 hari, namun hingga hari terakhir tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan kapal maupun delapan orang di dalamnya.

Ini bukan pencarian kecil. Di hari terakhir saja, 523 personel gabungan dikerahkan menyisir darat, laut, dan udara. Luas area yang disapu mencapai 8.509 nautical mile persegi, dengan dukungan 24 kapal yang bergerak di sektor-sektor yang diperkirakan menjadi jalur pergeseran kapal dan korban.

Selama operasi, tim sempat menemukan 13 objek terapung berupa pelampung, terpal, helm hingga galon. Semua objek diperiksa dan diverifikasi oleh Ditpolairud Polda Banten, dan hasilnya nihil. Tidak satu pun yang memiliki keterkaitan dengan fisik maupun kelengkapan KM Arupadatu I.

Delapan orang yang hingga kini belum ditemukan terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru. Mereka adalah M Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka.com), Yudhistiro (iNews), Firdaus (Anadolu), Donal (jurnalis lepas), serta Warta selaku nakhoda, Surakman sebagai ABK, dan Heriyanto sebagai pemandu.

Rombongan bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB untuk peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kontak terakhir tercatat pukul 15.04 WIB, setelah salah satu anggota rombongan sempat mengirimkan lokasi kepada rekan jurnalis.

Meski operasi aktif dihentikan, statusnya tidak ditutup permanen. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menegaskan operasi beralih ke tahap pemantauan tanpa batas waktu.

Pemantauan akan dilakukan melalui VTS, Lanal, Polair, dan laporan kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda. Jika ada petunjuk baru yang terverifikasi, operasi SAR akan dibuka kembali sewaktu-waktu.

“Namun bilamana ada informasi dari masyarakat, baik nelayan atau kapal yang melintas atau pihak manapun, operasi ini bisa dihidupkan kembali bilamana ada penemuan petunjuk baru,” ujar Andra.

Pemerintah Provinsi Banten juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR dan insan pers yang mengawal operasi selama sepuluh hari, serta menegaskan pendampingan kepada keluarga korban tetap berlanjut.