Selasa, 22 September 2026
TABLOID NUSANTARA
BERITA

KURSI MENKEU BERGANTI, ARAH APBN DIUJI: SUAHASIL NAZARA ANTARA KONTINUITAS DAN JARAK KRITIS

JAKARTA, tabloidnusantara. Pergantian Menteri Keuangan jarang berhenti pada seremoni dan foto bersama di Istana. Di balik satu kursi yang berpindah, pasar dan publik selalu membaca sinyal yang lebih dalam: apakah arah uang negara akan berbelok, menguat, atau justru tetap di rel yang sama.

Senin 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto memanggil Suahasil Nazara untuk mengisi kursi yang sebelumnya diduduki Purbaya Yudhi Sadewa. Pelantikan dalam reshuffle Kabinet Merah Putih itu berlangsung singkat namun dampaknya langsung terasa

Indeks Harga Saham Gabungan sempat melompat tajam pada pembukaan perdagangan, seolah pasar menarik napas lega karena ketidakpastian kepemimpinan fiskal mereda.

Namun euforia itu tidak bertahan lama. Menjelang penutupan, IHSG kembali tergelincir ke zona merah. Pasar memberi tepuk tangan awal, lalu menunggu bukti.

Pertanyaan yang kemudian menggantung bukan lagi soal siapa yang duduk, melainkan apa yang akan dilakukan orang itu terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. APBN adalah jantung kebijakan. Di sanalah janji program bertemu dengan realitas penerimaan dan belanja.

Yang membuat situasi ini berbeda adalah siapa Suahasil. Ia bukan pendatang baru yang harus belajar dari nol tentang koridor Kemenkeu. Sejak 25 Oktober 2019 ia duduk sebagai Wakil Menteri Keuangan, mendampingi Sri Mulyani lalu Purbaya.

Sebelumnya ia memimpin Badan Kebijakan Fiskal sejak 2016. Ia sudah menulis, menghitung, dan mempertahankan angka-angka APBN di DPR selama bertahun-tahun. Dengan kata lain, ia tahu betul di mana letak pipa-pipa anggaran, di mana kebocorannya, dan di mana ruang manuvernya.

Kontinuitas itu bisa menjadi kekuatan besar. Transisi kepemimpinan tidak perlu diulang dari halaman pertama. Pasar mengenalnya, birokrasi mengenalnya, dan mitra internasional mengenalnya.

Chief Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menyebut penunjukan ini sebagai sinyal keberlanjutan, bukan pergeseran rezim fiskal.

“Kami melihat reshuffle sebagai sinyal keberlanjutan kebijakan fiskal, bukan pergeseran rezim fiskal Indonesia,” ujarnya.

Dengan latar belakang teknokratis dan pengalaman panjang menyusun APBN, risiko guncangan transisi bisa ditekan.

Namun justru karena kedekatan itulah tantangannya menjadi lebih berat. Menjadi orang dalam berarti membawa warisan.

Menjadi pemimpin berarti harus berani menimbang ulang warisan itu. Suahasil sendiri di hari pertama kerja di kantor Kemenkeu memilih nada yang hati-hati.

“Ini adalah melanjutkan pekerjaan Kementerian Keuangan. Solid semua? Melanjutkan pekerjaan Kementerian Keuangan, kita bukan masalah berubah-berubah,” katanya kepada wartawan.

Pernyataan itu sengaja disampaikan untuk menenangkan. Pemerintah ingin pasar tahu bahwa pergantian menteri tidak sama dengan mengganti haluan.

Disiplin fiskal tetap menjadi kompas. Defisit akan dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB. Program-program prioritas Presiden Prabowo tetap harus punya ruang anggaran. Kredibilitas APBN disebut sebagai kata kunci.

Tetapi melanjutkan bukan berarti menyalin mentah. APBN 2026 berjalan di tengah tekanan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Harga komoditas bergejolak, arus modal global tidak menentu, dan beban belanja untuk program strategis pemerintah menuntut efisiensi yang lebih tajam.

Di titik inilah kemampuan Suahasil untuk mengambil jarak dari kebijakan lama akan diuji. Mampu melihat mana yang harus dipertahankan karena sudah terbukti, dan mana yang harus dikoreksi karena sudah tidak relevan.

Pengalaman panjangnya memberi keuntungan. Ia tahu persis trade-off antara menjaga pertumbuhan dan menjaga kepercayaan investor.

Ia juga tahu bahwa kepercayaan itu tidak dibangun hanya dari angka, tetapi dari cara berkomunikasi. Karena itu ia menekankan pentingnya transparansi agar publik memahami ke mana uang negara pergi.

Prabowo memilih Suahasil bukan untuk membuat gebrakan revolusioner di bidang fiskal. Pilihan itu lebih mirip memasang nahkoda yang sudah hafal peta dan cuaca. Tugasnya bukan membalikkan kapal, melainkan memastikan kapal tetap stabil ketika ombak datang.

Yang akan dinilai publik dalam beberapa bulan ke depan bukan pidato pelantikan, melainkan keputusan-keputusan kecil di dalam Rancangan APBN, realisasi belanja, dan bagaimana Kemenkeu merespons gejolak eksternal.

Apakah kebijakan subsidi akan lebih terarah, apakah penerimaan pajak bisa digenjot tanpa membebani, dan apakah ruang fiskal cukup untuk membiayai agenda pembangunan tanpa mengorbankan kehati-hatian.

Kursi Menteri Keuangan memang hanya satu. Tapi gema dari keputusan yang keluar dari ruangan itu akan memantul ke seluruh ekonomi. Suahasil kini berada di persimpangan antara meneruskan dan mengevaluasi.

Pasar sudah memberi sinyal awal. Selanjutnya giliran kebijakan yang berbicara.