LOMBOK TENGAH, tabloidnusantara. Pagi yang biasanya riuh dengan aktivitas belajar di Kecamatan Batukliang berubah jadi panik. Sebanyak 352 siswa SD dan MTs dilarikan ke puskesmas setelah mengalami mual, muntah, pusing dan sakit perut. Dugaan sementara mengarah ke menu kebab ayam dari program Makanan Bergizi Gratis yang mereka santap beberapa jam sebelumnya.
Peristiwa itu menyebar ke lima sekolah dalam waktu hampir bersamaan. SDN 2 Lendang Tampel, SDN Beber, SDN Repoq Puyung, SDN Mertak Kesambik, dan MTs Qudwatun Hasanah menjadi titik yang terdampak. Data Tim Surveilans Dinas Kesehatan Lombok Tengah mencatat para korban dibawa ke empat puskesmas terdekat untuk penanganan darurat.
Di Puskesmas Pringgarata, antrean panjang terlihat sejak pukul sebelas siang. Dokter Penanggungjawab Medis, dr. Dessy Jumianita, menyebut hingga pukul 12.30 WITA pihaknya sudah menangani 179 siswa yang datang dari SDN Beber. Keluhannya hampir sama.
“Informasi yang kami dapatkan, mereka mulai merasakan gejala setelah makan MBG di sekolahnya,” jelas Dessy.
Dari jumlah itu, 17 siswa dengan gejala sedang harus dirawat. Sisanya diobservasi selama tiga jam. Jika kondisi sudah membaik dan tidak ada keluhan lagi, mereka diperbolehkan pulang.
Karena kapasitas puskesmas tidak cukup, sebagian siswa dengan gejala ringan dialihkan ke Kantor Camat Pringgarata yang letaknya tepat di depan puskesmas. Pemantauan tetap dilakukan tim surveilans bersama sekolah dan Dinas Kesehatan.
Menu yang dibagikan pagi itu berasal dari SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu di bawah Yayasan Budi Sain Mangkling. Makanan tiba di sekolah sekitar pukul 08.15 WITA dan mulai dibagikan pukul 09.00 WITA. Selang 10 menit, laporan pertama keluhan masuk. Gejala terus bermunculan hingga menjelang siang.

Isi kebab itu terdiri dari kulit kebab, daging ayam fillet, stik tempe, timun, selada, dan buah salak sebagai pelengkap. Belum ada kepastian apa yang menjadi pemicu keracunan.
Tim dari Puskesmas Mantang, Aik Darek, Pringgarata, Bagu, dan Dinas Kesehatan Lombok Tengah masih melakukan penyelidikan epidemiologi dan mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium.
“Proses investigasi masih berjalan. Kami mengumpulkan data untuk memastikan hubungan antara konsumsi MBG dengan gejala yang muncul, sekaligus mencari sumber penyebabnya,” ujar petugas surveilans di lapangan.
Hingga sore ini, sebagian besar siswa sudah dipulangkan dan dalam pengawasan orang tua serta pihak sekolah. Kasus ini menjadi sorotan karena MBG merupakan program prioritas pemerintah untuk pemenuhan gizi anak sekolah. Di Batukliang, kepercayaan itu kini diuji setelah ratusan anak harus terbaring karena makanan yang seharusnya menyehatkan.
